WHO: Benarkah Asupan Gula Pada Manusia Harus Dikurangi? | BREAKTIME
WHO: Benarkah Asupan Gula Pada Manusia Harus Dikurangi?
16.03.2015

Baru-baru ini, sebuah acara yang digelar WHO di Geneva, Swiss, membahas guideline baru yang ditujukan pada kalangan dewasa maupun anak-anak untuk mengurangi asupan free sugar hingga kurang dari 10% total kebutuhan energi. Disebutkan juga bahwa, pengurangan gula hingga di bawah angka 5% atau sekitar 25 gr per hari akan memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan Anda.

So what is free sugar? Well, free sugar ini mengacu pada monosakarida (glukosa dan fruktosa) serta disakarida (sukrosa dan table sugar) yang ditambahkan ke dalam makanan dan minuman, baik saat dalam proses produksi pabrik ataupun saat dimasak sendiri. Lalu, alasan spesifik apakah yang menjadikan asupan gula dalam tubuh memang harus benar-benar dikurangi?

Menurut Dr. Francesco Branca, Director of WHO’s Department of Nutrition for Health and Development, terdapat bukti yang kuat bahwa mengonsumsi free sugar kurang dari 10% dari total kebutuhan energi akan mengurangi risiko berat badan berlebih, kegemukan, hingga masalah gigi berlubang. 

Menurut Dr. Branca, adanya keputusan baru untuk komitmen pada upaya mengurangi asupan gula ini akan mengurangi risiko noncommunicable disease (NCD), kelompok penyakit kronis tidak menular yang bertahan lama dalam tubuh manusia seperti kanker, diabetes, gagal ginjal, dan penyakit menahun lainnya.

Anjuran yang dikeluarkan oleh pihak WHO ini sejatinya berdasar pada analisis akan bukti penelitian ilmiah terkini. Hasil penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa kalangan dewasa yang mengonsumsi gula lebih sedikit akan memiliki berat badan normal, sedangkan penambahan asupan gula dalam menu makanan akan berakibat pada efek kegemukan.

Selain itu, di kalangan anak-anak, mereka yang mengonsumsi sugar-sweetened drinks cenderung akan mengalami kelebihan berat badan atau obesitas dibandingkan anak yang hanya sedikit mengonsumsi sugar-sweetened drinks.

Tak hanya itu, anjuran terbaru WHO ini juga didukung oleh penelitian yang menunjukkan tingginya angka dental caries ketika seseorang mengonsumsi free sugar lebih dari 10% dari jumlah kebutuhan energi. Hasil dari sejumlah penelitian inilah yang membuat anjuran ini sebagai “strong recommendation” which means they can be adopted as policy in most situations.

But please don’t be misunderstanding as WHO guidelines does not refer to the sugars in fresh and vegetables, or sugars naturally present in milk lantaran tidak ada laporan ilmiah akan adanya dampak negatif yang diperoleh dari konsumsi jenis gula alami seperti ini. Just be wise, B’timers!

Share This Article