Benarkah Supersemar 1966 Bagian dari | BREAKTIME
Benarkah Supersemar 1966 Bagian dari "Sejarah Gelap”?
11.03.2015

Di balik serentetan sejarah tanah air, ada sejumlah peristiwa yang hingga kini masih menjadi sebuah teka-teki panjang yang belum berhasil terpecahkan. Salah satunya adalah peristiwa yang terjadi di tahun 1966 berkaitan dengan turunnya Surat Perintah Sebelas Maret atau yang lebih akrab disebut “Supersemar”.

Surat perintah tunggal yang ditandatangani oleh Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata/Mandataris MPRS/Pemimpin Besar Revolusi Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966 tersebut disebut-sebut memiliki sejumlah versi dengan isi yang berlainan. Bahkan, disinyalir Supersemar yang banyak beredar di dalam buku-buku sejarah saat ini adalah versi palsu. Bila berita tersebut benar, lalu di mana posisi Supersemar yang asli?

Hingga kini, setidaknya ada tiga versi Supersemar yang beredar, yakni versi Rezim Orde Baru, versi sumber lain, serta versi Pusat Sejarah dan Tradisi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Berbagai usaha telah pernah dilakukan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) untuk mendapatkan kejelasan mengenai naskah asli Supersemar. Bahkan, pihak ANRI telah berkali-kali meminta keterangan dari Jenderal (Purn.) Muhammad Jusuf yang merupakan saksi hidup terakhir dalam peristiwa Supersemar.

Sayangnya, hingga akhir hayatnya di tanggal 9 September 2004 silam, Muhammad Jusuf yang dulunya menjabat sebagai perwira tinggi Angkatan Darat tetap tidak bergeming untuk menceritakan fakta yang sebenarnya. 

Saksi lain yang dapat mengantar jawaban atas metode penelitian yang dilakukan melalui sejarah lisan ini adalah Mantan Presiden Soeharto. Namun, wafatnya Soeharto pada tanggal 27 Januari 2008 membuat misteri sejarah Supersemar makin sulit untuk diungkap. Atas kesimpangsiuran tersebut, kalangan sejarawan dan hukum Indonesia bersepakat mengatakan bahwa peristiwa G-30 SPKI 1965 dan Supersemar 1966 adalah salah satu dari sekian sejarah nasional Indonesia yang masih ‘gelap’.

Share This Article