Benarkah Musik Metal Berikan Efek Buruk untuk Pendengarnya? | BREAKTIME
Benarkah Musik Metal Berikan Efek Buruk untuk Pendengarnya?
23.03.2015

Heavy metal atau metal merupakan salah satu genre dari music rock yang lahir pada awal tahun 1970-an dan pertama kali dipopulerkan di Amerika Serikat serta Inggris. Mengakar pada genre blues rock dan psychedelic rock, aliran metal mengusung karakter musik yang keras dan nyaring dengan gebukan drum yang tegas serta petikan gitar yang khas. Selain itu, lagu metal juga didominasi dengan lirik-lirik yang maskulin dan agresif.

Seiring berjalannya waktu, musik metal masuk ke negara-negara lain tak terkecuali Indonesia. Aliran yang sering dianggap kelam dan gelap ini juga digandrungi banyak penikmat musik di tanah air. Tak heran, sejumlah band terbaik dunia yang terkenal dengan aksi ‘cadasnya’ seringkali diundang ke Indonesia untuk memuaskan dahaga pecinta musik metal. Sayangnya, konser musik metal selalu identik dengan kerusuhan dan aksi kekerasan. Benarkah music keras ini memang bisa memancing pendengarnya untuk bertindak anarkis?

Musik Metal Tak Selalu Anarkis

Benarkah Musik Metal Berikan Efek Buruk untuk Pendengarnya?

Jika selama ini Anda sudah kenyang mendengar berbagai dampak negatif yang bisa ditimbulkan dengan mendengar musik metal, now let’s take look in a different way. Berdasarkan Cambridge Psychology Journal yang dipublikasikan tahun 2013, orang yang sering mendengarkan musik rock atau metal menunjukkan penurunan tingkat hormon pemicu stress, yaitu kortisol. Hal ini juga mengindikasikan bahwa musik rock atau metal bisa mengurangi resiko depresi dan mampu membuang emosi yang negatif. Masih tidak yakin dengan efek positif yang diberikan musik metal?  

Anda butuh bukti lain? Hammersonic Jakarta International Metal Festival 2015 yang digelar pada hari Minggu 8 Maret 2015 lalu mendatangkan sejumlah band metal legendaris seperti Mayhem dan Lamb of God. Konser dengan 15 ribu penonton itu berlangsung dahsyat di Senayan, Jakarta. Lalu apakah terjadi kerusuhan di konser tersebut? 

Sama sekali tidak, B’timers! Sang vokalis Lamb of God, Randy Blythe, mengajak seluruh penonton untuk menggila, namun melarang mereka untuk berkelahi. Randy bahkan meminta penonton untuk menolong jika ada yang terjatuh.

Dan secara ajaib, ajakan vokalis band asal Richmond, Virginia, itu berhasil mengubah atmosfer panas konser jadi lebih positif. Seluruh penonton melampiaskan amarah lewat dentuman musik yang bising, tanpa membuat kerusuhan sedikitpun. Kondisi ini menjadi bukti nyata bahwa musik metal tak serta-merta identik dengan tindakan anarkis kan, B’timers? 

Share This Article