Fakta Tentang Mengkonsumsi Cumi-Cumi saat Hamil|BREAKTIME
Benarkah makan cumi-cumi saat hamil dapat menyebabkan bayi cacat?
31.01.2015

Banyak orang yang menfavoritkan cumi-cumi lantaran rasanya yang enak. Ya, ‘tinta’ yang dimiliki cumi-cumi memang bisa menambah cita rasa dan kelezatannya. Cara pengolahan yang terbilang mudah jika dibandingkan dengan jenis seafood lain, juga menjadi salah satu alasan cumi-cumi banyak dicari.

Namun, apakah makan cumi saat hamil cukup aman? Pertanyaan ini muncul dibenak sebagian besar orang saat mengetahui bahwa seafood menyimpan kandungan merkuri yang cukup banyak. Hewan bertentakel ini juga mengandung merkuri sama seperti pada ikan hiu, king mackerel, tilefish, todak, dan marlin.

Kontaminasi merkuri yang masuk ke tubuh dalam jumlah banyak saat hamil menimbulkan dampak negatif. Pembentukan dan perkembangan saraf janin menjadi salah satu ancaman yang harus diwaspadai. Apabila perkembangan janin mengalami gangguan, dapat menyebabkan bayi lahir cacat.

Namun B’timers patut berbahagia karena cumi tergolong seafood yang kandungan merkurinya cukup rendah sehingga aman dikonsumsi saat hamil sekalipun. Cumi termasuk kudapan rendah lemak dan tinggi kandungan gizinya. Sebanyak 3 ons cumi dapat menyediakan sebanyak 15,25 gram protein yang berguna untuk pembentukan sel-sel tubuh. Cumi juga menyimpan 0,85 miligram zat besi dan 1,48 seng.

Baca Juga: Tips Membersihkan dan Memotong Cumi

Tak cukup itu, cumi masih menyimpan vitamin B12, vitamin C, vitamin A, serta asam folat yang baik untuk memelihara kesehatan tubuh. Saat hamil seperti saat ini, porsi makan cumi yang aman yaitu tidak melebihi 12 ons dalam jangka waktu seminggu. Jenis seafood lain yang aman untuk kehamil yaitu udang, salmon, tuna, pollock, flounder, haddock, dan kepiting.

Menurut penelusuran Breaktime, wanita hamil juga harus mewaspadai merkuri yang terdapat dalam beberapa produk kosmetik. Sebab, saat ini banyak barang kosmetik yang mengandung campuran merkuri cukup tinggi. Be careful, B’timers!

Share This Article