Rahasia di Balik Jomblo-Phobia Para Cowok | Breaktime
Rahasia di Balik Jomblo-Phobia Para Cowok
29.11.2017

Istilah pemimpi cinta sepertinya paling cocok untuk menggambarkan generasi milenial masa kini.  Terutama pada kaum Hawa, tentu ini bukan pertama kalinya Anda melihat teman-teman perempuan Anda mengeluh akan status jomblo mereka. Baik melalui status curhatan di media sosial atau saat Anda hangout bersama dengan mereka.

Bagaimana dengan teman laki-laki mereka? Mereka mungkin terlihat lebih cuek dan santai-santai saja. Dan walaupun mereka mengeluh soal itupun, hal tersebut hanya terjadi sesekali saja. B’Timers mungkin menganggap bahwa teman perempuan Anda terlihat sedemikian desperate untuk menemukan pasangan. Tapi, tahukah kalau ternyata ada sebuah penelitian yang membuktikan bahwa justru kaum Adam lebih tidak tahan single dibandingkan dengan counterpart-nya?

Menurut analisis data  perusahaan market-research Mintel, sebanyak 61 persen perempuan singlet justru jauh lebih happy, dan sebanyak 75 persen perempuan tidak aktif mencari pasangan hidup. Angka tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan persentase pria single yang bahagia dengan kejombloannya, yaitu hanya sekitar 49 persen dan 65 persen untuk pria single yang aktif berburu cinta. Apa penyebab di baliknya ya?

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Bahayanya Pasangan Milenial yang Jarang Bercinta

Penyebab pertama yang paling umum adalah, perempuan memiliki social networks yang jauh lebih luas dibandingkan dengan pria. Saat seorang perempuan baru saja mengalami patah hati, ia bisa langsung mengandalkan support dari girls squad-nya. Ia bisa mencurahkan perasaannya dengan bebas, dan masyarakat memaklumi hal tersebut. Perempuan single juga jauh lebih menikmati momen sosialisasi dengan teman-temannya. Sehingga asalkan kebutuhan sosialnya terpenuhi dengan kehadiran teman-temannya, ia tidak merasa membutuhkan kehadiran seorang pria di dalam hidupnya.

Berbeda dengan kaum pria, B’Timers. Jika perempuan memiliki ruang yang lebih luas untuk mengekspresikan diri, pria justru mengalami pembatasan. Bahkan ketika ia memiliki social circle yang luas pun, ia cenderung segan untuk membagikan perasaan terdalamnya. Alasannya hanya satu, yaitu jaim alias jaga image

Rahasia di Balik Jomblo-Phobia Para Cowok | Breaktime
Pria pun butuh mengekspresikan emosinya dengan bebas

Seorang pria selalu digambarkan sebagai sosok pria Alpha yang gagah perkasa. Dan salah satu kriteria masculinity di dalam masyarakat adalah sebaik apa pria menyembunyikan perasaannya. Seorang pria dilarang keras untuk mengekspresikan apa yang dirasakannya. Ia tidak boleh menangis ketika ia sedih, dan bahkan ketika marah pun ia diharapkan untuk dapat mengontrol emosinya. Seorang pria yang menunjukkan perasaannya akan dilabeli dengan stereotype “banci”, bahkan oleh teman-temannya sendiri. Tak jarang mereka juga mengalami kekerasan fisik seperti menjadi korban bullying, terutama saat ia berusia muda.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Rahasia Balikan dengan Mantan ala Justin Bieber

Dalam ilmu gender, maskulinitas semacam itu disebut dengan Hegemoni Maskulinitas. Hegemoni maskulinitas mendefinisikan perempuan sebagai kasta yang lebih rendah dari kaum pria, sedangkan kaum pria digambarkan sebagai sosok dominan yang berhak memegang kontrol atas perempuan. Dan sebagai sosok yang memegang kontrol, seorang pria harus menunjukkan “wibawa”.

Bentuk “wibawa’ tersebut antara lain dengan menjauhkan diri dari hal-hal berbau feminin seperti kemampuan memasak, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Dan juga bisa dalam bentuk pelarangan untuk menunjukkan perasaannya. Tak jarang untuk membuktikan ke’maskulin’-itasnya, beberapa pria akan menindas pria lain atau pasangan mereka, atau bahkan menunjukkan sikap homophobic terhadap golongan LGBT. Kalau boleh jujur, hegemoni maskulinitas adalah bentuk maskulinitas palsu yang sangat lemah. Namun sayangnya hal tersebut masih banyak ditemukan di era modern ini.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Posisi Bercinta Menggairahkan Saat Hamil

Itulah kenapa seorang pria merasa membutuhkan seorang perempuan dengan ikatan yang sangat dekat yang mau menerima dirinya yang rapuh. Tapi seandainya masyarakat menerima seorang pria sebagai seorang manusia dan bukan sebagai objek maskulinitas, who knows akan lebih banyak pria yang juga menerima kehidupan jomblonya dengan senang hati. (dkp)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE