Mengenal Kelainan Seksual Objectophilia | Breaktime
Mengenal Kelainan Seksual Objectophilia Lebih Dekat
18.12.2015

Jika berbicara mengenai penyimpangan perilaku seksual, maka yang paling sering terlintas di benak kita adalah penyuka sesama jenis. Dan di sejumlah negara, semenjak telah disahkannya undang-undang kesetaraan hak untuk kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender), para pelakunya kini semakin tidak segan untuk menunjukkan aksinya di tempat umum dan di tengah keramaian.

Namun yang perlu Anda ketahui di sini, ternyata penyimpangan seksual tidak hanya terbatas pada penyuka sesama jenis saja, B’timers. Ada sadomakis, pedophilia yang belakangan sudah sering di bahas di berbagai media, incest, dan masih banyak lagi. Dan mungkin di antara kita belum terlalu mengenal tentang objectophilia.

Mengenal Kelainan Seksual Objectophilia | Breaktime
Menikahi pohon merupakan satu contoh penyimpangan seksual

Apa itu objectophilia?

Objectophilia merupakan satu jenis penyimpangan seksual, dimana penderitanya memiliki ketertarikan terhadap benda-benda. Mereka bahkan percaya bahwa benda mati memiliki roh, dapat merasakan emosi, dan dapat berkomunikasi.

Jenis penyimpangan ini dapat dicontohkan seperti pada beberapa kasus yang terjadi di negara-negara Eropa. Pada tahun 2009, Erika Eiffel mengumumkan pernikahannya dengan Menara Eiffel dalam acara Good Morning America, dan membagi cerita bahwa hubungannya tersebut sangat membantu dia memenangkan kejuaraan panahan tingkat dunia.

Seorang konselor seks, Amy Marsh menemukan sejumlah penyimpangan seksual ini di beberapa sastra klasik. Diantaranya Si Bungkuk Dari Notre Dame, di mana tokoh Quasimodo memiliki perasaan terhadap lonceng-lonceng, dan rasa cinta tersebut ditunjukkan dengan perhatian dan mengajak mereka berbicara.

Penyebab penyimpangan objectophilia

Penyebab dan bagaimana penyimpangan objectophilia ini bisa muncul, belum dapat dijelaskan. Namun seperti yang dijelaskan oleh Marsh dari hasil surveynya, bahwa pelaku penyimpangan seksual objectophilia disebabkan lebih dari sebatas trauma masa kecil saja, seperti yang biasa menjadi penyebab timbulnya penyimpangan pada pelaku pedophilia atau yang lain.

Meskipun demikian, jika dilihat dari aspek psikologi para pelakunya, mereka biasanya memiliki perasaan cinta atau emosional yang sangat kuat, sehingga sulit menemukan pasangan yang menurut mereka tepat bagi dirinya. atau bisa juga disebabkan rasa takut dan kecemasan berlebih. Seperti jika mereka menjalani hubungan normal dengan wanita atau pria, mereka akan dibuat kecewa oleh pasangannya. Contohnya, akan ditinggalkan begitu saja ketika ada masalah sepele.

Masih ada penjelasan lain yang mungkin mendasari alasan mereka, yaitu mereka merasakan kekaguman atas benda-benda tertentu yang ditemui. Misalnya, dengan kemegahan Menara Eiffel yang berdiri kokoh, dirasa dapat memberikan perlindungan baginya dalam menjalani suatu hubungan.

Nah, normalkah cara mereka melampiaskan perasaannya tersebut? Well, cinta atau rasa sayang memang dapat merekatkan hubungan antar pasangan. Namun jika berlebihan dan disalurkan dengan cara yang tidak tepat, akan cukup disayangkan juga, ya? Bagaimana menurut Anda, B’timers? (no)

Share This Article