Apakah Si Dia Tipe Kekasih yang Pasif-Agresif? | Breaktime
Apakah Si Dia Tipe Kekasih yang Pasif-Agresif?
17.11.2015

Memiliki kekasih pujaan hati memang terasa bahagia sekali. Apalagi jika B’timers dan pasangan benar-benar saling memahami. Tetapi, apakah Anda sudah yakin betul dengan hal tersebut? Sebab, status “berpacaran” kadang bisa menutup mata, lho. Dan, tak disadari orang yang bersama Anda sebenarnya bersikap pasif-agresif. Seperti apakah itu?

Menurut NYU Medical Center, individu pasif-agresif adalah seseorang yang “mungkin terlihat penurut atau bersikap pantas, namun sebenarnya berperilaku negatif dan menolak secara pasif.” Dan, perilaku pasif-agresif bisa dilihat mulai dari yang paling ringan, seperti mengatakan beribu alasan untuk janji yang tak ditepati, hingga yang sangat serius seperti menghalangi kesuksesan seseorang.

Lalu seperti apa tanda-tanda sikap pasif-agresif?

Mendiamkan begitu saja

Ia mudah mendiamkan Anda begitu saja, tak mau bertemu atau berbicara dengan Anda. Tujuannya adalah untuk membuat Anda merasa telah “melakukan hal yang salah” dan itu menjadi hukuman Anda.

Berkata “ya” namun berarti “tidak”

Ini salah satu yang paling umum dijumpai dalam hubungan pasif-agresif, terutama saat keduanya sudah lama saling mengenal, dan salah satu pihak telah menyerah untuk berkompromi. Akhirnya, berkata “ya” menjadi solusi termudah untuk menghindari adu pendapat dan pertengkaran.

Berkata “aku tidak bisa” namun berarti “aku tidak akan”

Jika ia terus mengatakan “aku tidak bisa” dengan berbagai alasan untuk permintaan yang sebenarnya biasa saja, bisa jadi ia sebenarnya memang tidak ingin bertanggung jawab melakukannya.

Marah sambil merenung

Merenung bisa berarti berdiam diri dan merasakan kesedihan yang berlarut-larut. Ini mungkin menyiratkan amarah yang terpendam. Biasanya, ini terjadi karena emosi yang tak langsung diekspresikan, sering diikuti kata-kata “tidak apa-apa!”.

Apakah Si Dia Tipe Kekasih yang Pasif-Agresif? | Breaktime
Pasangan pasif-agresif selalu ingin mendominasi

Menunda-nunda

Tak seperti berkata “ya” padahal sebenarnya “tidak”, seorang pasif-agresif memilih untuk mengiyakan namun tidak langsung melakukannya. Ia akan mengulur waktu dengan berbagai alasan dengan harapan pasangannya akan lelah sendiri dan tak berharap lagi.

Bersikap sarkasme

Mereka suka mengkritik, seringkali dibalut dengan humor, untuk mengekspresikan kebencian terhadap pasangannya atau ketidaksenangan mereka di sebuah situasi tertentu. Mereka ingin mengontrol Anda secara psikologis dengan membuat Anda merasa buruk.

Melakukan sabotase

Sabotase yang dilakukan seorang pasif-agresif seringkali dilakukan untuk membuat dirinya merasa lebih kuat, atau bahkan untuk melakukan balas dendam. Ia akan melakukan hal-hal seperti menyebar gosip negatif, menusuk dari belakang, bermuka dua, memberikan kejutan yang tidak mengenakkan hingga sering tak menepati janji.

Menyalahkan tanpa alasan

Salah satu pihak akan merasa “bertanggung jawab” atas kebahagiaan dan kesuksesan, atau kesedihan dan kegagalan pasanganya. Pasangan yang pasif-agresif akan menyerang Anda secara emosional, misalnya selalu menyalahkan Anda ketika ia merasa sedih.

Selain itu, orang pasif-agresif akan selalu memposisikan dirinya sebagai korban. Ia akan membuat kita merasa seolah-olah dirinya lemah dan tak berdaya, hingga itu membuat kita selalu menurutinya. Nah, jika B’timers merasakan tanda-tanda di atas, mungkin kini saatnya berpikir dengan lebih jernih dan cobalah memikirkan cara terbaik untuk memperbaiki kondisi hubungan. (md)

Share This Article