3 Komplikasi Langka Selama Proses Kehamilan | Breaktime
3 Komplikasi Langka Selama Proses Kehamilan
09.08.2017

B’timers tentu sepakat bahwa kehamilan merupakan proses yang menyenangkan sekaligus mendebarkan bagi seorang calon Ibu. Sebagai suatu life-changing moment, kehamilan sebaiknya diliputi positive vibes untuk menjamin kesehatan psikologis Anda dan janin. Di balik kebahagiaan menanti calon jabang bayi dan semangat menggebu saat menyiapkan baby crib dan pakaian bayi nan imut, Anda tentunya diliputi berbagai macam ketidaknyamanan hingga komplikasi selama proses kehamilan. Selain backpain dan ngilu pada rusuk akibat tendangan sang buah hati hingga anemia dan pre-eclampsia, terdapat beberapa komplikasi kehamilan yang jarang terjadi dan masih belum banyak diketahui oleh para Ibu hamil.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Tebak Persalinan Via Kalkulator Kehamilan

Amniotic Band Syndrome

Sindrom komplikasi kehamilan yang sangat jarang terjadi ini biasanya hanya terjadi pada sekali kehamilan saja dan hampir tidak mungkin terulang pada kehamilan berikutnya. Mengerikannya lagi, B’timers, tidak ada upaya tertentu yang bisa Anda lakukan untuk mencegah terjadinya sindrom ini pada janin Anda. Amniotic Band Syndrome terjadi ketika lapisan amnion pecah sehingga fetus pun terekspos terhadap jaringan fibrous yang mengapung di dalam uterus. Jaringan tersebut nantinya akan membungkus anggota tubuh janin dan menyebabkan kecacatan.

Bayi yang terlahir dengan sindrom ini biasanya akan kehilangan beberapa anggota tubuh maupun jari tangan. Seringkali, bayi-bayi tersebut akan terlahir dengan jaringan nekrotik yang terpaksa harus diamputasi. Baru-baru ini, terdapat terobosan berupa pembedahan utero surgery untuk membebaskan janin dari jaringan fibrous.

3 Komplikasi Langka Selama Proses Kehamilan | Breaktime
Selama proses kehamilan banyak-banyak kontrol ke dokter
Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Bukti Obat Bisa Mempengaruhi Gairah Seks

Melasma atau The Mask of Pregnancy

Melasma atau choasma kemungkinan terjadi pada 50-75% wanita hamil. Disebut juga dengan the mask of pregnancy karena gangguan kulit ini muncul sebagai bercak kecokelatan pada kulit wajah di area dahi, pipi, dan kulit di atas bibir. Melisma terjadi ketika tingginya kadar estrogen selama proses kehamilan yang menyebabkan peningkatan produksi melanin. Selain timbulnya bercak kecokelatan, melasma juga menyebabkan tahi lalat dan bintik pada wajah berubah warna menjadi lebih gelap. Gejala yang lebih sering terjadi pada sebagian besar ibu hamil ialah garis vertikal berwarna cokelat gelap yang muncul di bagian tengah perut ibu hamil, yang disebut juga sebagai linea negra.

Meski demikian, B’timers tidak perlu khawatir karena timbulnya bercak dan perubahan warna pada kulit tersebut akan menghilang setelah melahirkan atau melewati proses menyusui. Selan itu, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk meminimalisir perubahan warna kulit yang mungkin terjadi. Hyperpigmentation pada sindrom melasma juga disebabkan oleh kurangnya kadar asam folat dan pengaruh paparan cahaya matahari. Solusinya, B’timers dapat mengkonsumsi sayuran hijau, buah jeruk, roti gandum utuh, maupun makanan lain yang kaya akan asam folat serta menggunakan tabir surya dengan kadar SPF tinggi.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Cara Menghitung Usia Kehamilan dengan Mudah

Placenta Accreta

Secara statistik, komplikasi kehamilan yang satu ini hanya menyerang 1 dari 553 ibu hamil. Saat ini terbukti terdapat peningkatan kejadian kasus placenta accreta yang dipercaya para ahli kandungan sebagai akibat dari meningkatnya popularitas kelahiran caesarean belakangan ini. Placenta accreta terjadi ketika seluruh atau sebagian plasenta tumbuh terlalu menjorok ke dalam dinding uterus. Sindrom ini biasanya dapat ditemukan melalui pemeriksaan ultrasound sebelum Anda melahirkan.

Dalam kehamilan normal, plasenta akan terlepas dari dinding rahim dan ikut keluar bersama dengan bayi. Pada sindrom ini, seluruh maupun sebagian plasenta akan tetap menempel pada dinding rahim setelah bayi dilahirkan, hingga dapat menyebabkan pendarahan. Seringkali, plasenta akan menempel pada luka bekas operasi caesarean yang sebelumnya. Artinya, apabila B’timers memiliki risiko terkena placenta accreta apabila pernah melahirkan secara C-section sebelumnya. Uniknya, kejadian placenta accreta pada proses kehamilan mengharuskan ibu hamil untuk melahirkan dengan cara caesarean, serta melalui proses pembedahan hysterectomy sesudah melahirkan untuk mengangkat jaringan plasenta yang tertinggal. (dee)



artikel kompilasi
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE