Woles Boleh, Tapi Jangan ‘Kebablasan’ | Breaktime
Woles Boleh, Tapi Jangan ‘Kebablasan’
03.12.2016

Di era serba cepat ini, tuntutan hidup juga semakin banyak saja. Mulai dari pekerjaan, keperluan keluarga, menyelesaikan sekolah, apapun. Tidak jarang masyarakat urban kadang merasa membutuhkan waktu yang lebih dari 24 jam dalam sehari. Namun, di tengah kepadatan rutinitas muncul sebuah istilah ‘woles’ yang dikonotasikan sebagai penyeimbang di tengah situasi hectic. Woles sendiri merupakan sinonim dari kata “slow”.

Ajakan untuk woles ini biasanya dilontarkan kepada seseorang yang selalu bergegas dan buru-buru. Mengajak untuk berhenti sejenak dan menarik napas panjang. Ya, bisa dibilang bersikap woles atau dengan kata lain santai, adalah cara yang tepat untuk menyikapi masalah yang datang pada kita. Namun, benarkah woles sepenuhnya membuat kita lebih menikmati hidup?

Karena, kadang antara woles dan menunda memiliki makna yang berbeda tipis dan bisa jadi berakhir ambigu. Yes, you know it. Jadi apakah sebenarnya Anda bersikap woles untuk lebih rileks dalam menghadapi suatu hal seperti pekerjaan, ataukah terlalu “malas” untuk melakukan sesuatu?

Woles Boleh, Tapi Jangan ‘Kebablasan’ | Breaktime
Hati-hati terlalu woles juga bahaya, lho

Well, mencintai diri sendiri memang lazimnya tak berujung pada tindakan ‘memaksakan diri’ dalam hal apapun. Namun, jika Anda bersikap woles hanya untuk menunda yang sebenarnya bisa dikerjakan, hal ini justru hanya sebagai alibi jika membela diri. Di sinilah, kedekatan Anda dengan diri sendiri diuji. Bagaimana bisa? Karena semua hal baik sikap, perilaku dan perbuatan berasal dari dalam diri, jadi sudah semestinya Anda mengenal seberapa besar kapasitas kemampuan yang dimiliki.

Mengetahui kapasitas kemampuan juga kemudian bisa membantu Anda mengenali diri dari sisi sudut pandang. Apakah Anda tipikal subjektif atau objektif dalam memandang dan menelaah berbagai hal? Subjektif biasanya lebih banyak didasari dengan mengutamakan pendapat dan persepsi pribadi sebagai acuan utama saat mengambil keputusan. Hal ini berbanding terbalik dengan sifat objektif, di mana Anda akan lebih realistis dan tak hanya mengandalkan persepsi pribadi, melainkan juga mempertimbangkan pendapat dari pihak-pihak lain.

Dari sinilah kemudian B’timers akan mengerti, apakah sebenarnya sikap woles selama ini, memang berdasarkan sisi objektivitas atau hanya sekedar subjektif, yang pada akhirnya berujung sebagai sikap penundaan dan pembelaan diri?

Jadi cobalah, belajar mengenali diri dari berbagai sisi tak hanya dari sisi kepribadian, tapi juga dari sisi sudut pandang. Karena dengan begitu Anda akan lebih mudah mengambil keputusan, serta mampu mempertimbangkan setiap risiko yang akan dihadapi dalam setiap keputusan tersebut. Let it flow, boleh saja woles untuk menikmati ritme kehidupan, tapi bukan berarti lupa diri ya, B’timers.



artikel kompilasi
related img
PAPUA
related img
PAPUA
related img
PAPUA