Stigma; Penghalang Besar Kesejahteraan Mental | Breaktime
Stigma; Penghalang Besar Kesejahteraan Mental
10.10.2017

Kita semua tahu yang namanya kehidupan tidak melulu berisi hal-hal yang menyenangkan saja. Ada saat dimana kita dihantam oleh emosi negatif seperti rasa sedih dan amarah, bahkan entah sudah tidak terhitung kekecewaan  yang harus dihadapi saat hal yang Anda rencanakan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tak jarang akumulasi emosi negatif tersebut berlangsung secara cepat sehingga menimbulkan reaksi yang sering kita sebut sebagai “stres”.

Stres sebenarnya adalah respons purba terhadap hal-hal yang dianggap mengancam diri kita. Hewan dan manusia sama-sama bisa mengalami stres. Ketika Anda dilanda stres, tubuh akan melepaskan hormon stres kortisol yang menyebabkan tubuh membentuk respons fight-or-flight. Efek dari respons tersebut salah satunya membuat Anda menjadi lebih waspada dan memiliki energi lebih untuk bertarung (fight) atau melarikan diri (flight).

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Olahraga Mana Nih Yang Tunjukkan Kepribadianmu?

Stres = Gangguan Jiwa?

Stres pada dasarnya bukanlah hal yang buruk karena sekali lagi, itu adalah reaksi alami tubuh ketika otak menangkap sinyal bahwa Anda terjebak dalam keadaan yang mengancam nyawa. Dan begitu saat yang membuat Anda stres berakhir, hormon kortisol pun akan mengalami penurunan dan tubuh akan kembali ke kondisi normal. Hanya saja, ada kalanya Anda dihadapkan pada suatu kondisi yang membuat Anda berada dalam keadaan stres secara terus-menerus. Bisa jadi karena Anda tengah menghadapi peristiwa traumatis seperti bullying, atau bisa juga dikarenakan oleh faktor yang lain seperti tekanan dari keluarga setelah Anda kehilangan pekerjaan, dan lain sebagainya.

Ketika Anda mengalami stres yang berkelanjutan, maka besar kemungkinan Anda terkena stres akut. Dalam kasus ini, tubuh memproduksi hormon stres kortisol dan norepinephrine dalam jumlah yang sangat besar dan mengakibatkan terganggunya fungsi dari prefrontal cortex, yaitu bagian dari otak besar yang bertugas untuk  mengatur kemampuan berpikir secara rasional. 

Stigma; Penghalang Besar Kesejahteraan Mental | Breaktime
Stres? Peluk orang atau hewan peliharaan tersayang!

Penderita stres akut jadi tidak dapat berpikir jernih dan seiring waktu akan menderita penyakit gangguan jiwa seperti anxiety, sikap  agresif, hingga depresi. Dan bergantung dari tingkat keparahan mental illness yang diderita, seseorang tersebut bisa saja nekat untuk mengakhiri hidupnya.

Sedemikian parah ya dampak stres akut terhadap kesehatan mental seseorang? Seharusnya sudah sewajarnya kita memberikan pertolongan, iya kan? Tapi sayangnya, penderita stres akut dan penyakit mental masih banyak yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan pertolongan kesehatan jiwa. Apa penyebabnya?

Stigma, Apa Itu?

Pernah mendengar berita dimana seorang pria memutuskan untuk bunuh diri secara live di internet beberapa bulan yang lalu? Tahukah Anda apa yang dilakukan oleh para penonton yang streaming videonya? Mereka justru menyoraki dan menuduh bahwa pria tersebut lemah dan sekedar cari perhatian.  Itulah stigma. Pernah mendengar berita seseorang yang menderita gangguan jiwa justru dikurung di dalam kandang kambing sambil dikerangkeng seakan-akan ia adalah seekor hewan buas? Itu juga stigma.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Tips Mengatasi Kelelahan Emosional Paling Ampuh

Secara garis besar, stigma adalah tindakan mengucilkan seseorang dari kelompok manusia lain, dan dalam kasus penderita stres akut dan penyakit mental, mereka harus hidup dengan label “lemah”, “caper”, dan label-label merendahkan yang lainnya. Bahkan tak jarang, sang penderita mengalami tindakan diskriminasi dari lingkungan sekitarnya. Tindakan-tindakan seperti itu secara tidak langsung membuat sang penderita percaya bahwa kondisi mentalnya yang tidak stabil disebabkan karena ia adalah seseorang yang lemah, dan hal tersebut membuat ia berusaha keras menutupi emosi negatif tersebut, hingga pada akhirnya emosi negatif tersebut menjadi wujud depresi yang sangat buruk rupa.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Tak hanya virus penyakit, mood juga bisa menular

Stigma adalah wujud kebodohan dan ketidaktahuan, dan sudah saatnya kita melenyapkan stigma terhadap siapapun, tak terkecuali pada penderita stres dan gangguan jiwa. Merasa overwhelmed atau mengalami depresi bukanlah tanda kelemahan, itu hanya tanda bahwa Anda dan kita semua adalah manusia biasa. Dan tentu sudah sewajibnya agar kita saling mendukung satu sama lain saat salah satu dari saudara kemanusiaan kita merasa rapuh, iya kan? Selamat Hari Kesehatan Jiwa, B’Timers. (dkp)



artikel kompilasi
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE