Internet Dapat Hancurkan Empati Manusia, Really? | Breaktime
Sosial Media dan Internet Dapat Hancurkan Empati Manusia, Really?
12.10.2015

Pastinya kita semua tahu bahwa di zaman modern dan serba maju seperti sekarang ini, internet memegang peranan penting. Internet bisa membantu meringankan aktivitas manusia, seperti salah satu contohnya adalah komunikasi jarak jauh.

Ketika popularitas internet sudah semakin menjulang seperti sekarang ini, anehnya, tidak sedikit yang mengatakan bahwa hal tersebut justru membuat orang kehilangan empati terhadap sesamanya.

Bahkan dikatakan pula, internet bisa merusak kepekaan anak untuk merasakan kesedihan atau kesenangan dari orang lain. Selain itu, dengan keberadaan internet, teknologi digital, dan sosial media, banyak aksi bullying, human trafficking sampai dengan penipuan atau penculikan yang terjadi di masyarakat.

Tidak hanya itu saja,banyak juga orang yang sangat vokal bersuara di jejaring sosial layaknya seekor singa, ternyata ketika harus berhadapan dengan orang lain di dunia nyata, akan menjadi seperti seekor kucing.

Melihat fenomena ini,  bisakah kita mengatakan bahwa internet, digital teknologi, dan sosial media adalah sarana yang tidak bermanfaat bagi manusia?

We don’t think so, B’timers. Sebab, segala sesuatu selalu ada sisi positif dan negatifnya, tergantung dari sudut pandang mana Anda melihatnya.

Ada orang yang merasa tenang dan nyaman tanpa harus memiliki satupun akun sosial media walaupun setiap harinya terhubung dengan internet. Akan tetapi ada pula orang yang tak bisa hidup tanpa sosial media.

Internet Dapat Hancurkan Empati Manusia, Really? | Breaktime
Pada dasar, semua hal termasuk internet dan sosial media memiliki sisi negatif dan positif

Pendapat para ahli mengenai kadar empati dan internet

Seorang profesor dan pakar dalam kajian ilmu efek teknologi dari California State University, Larry D Rosen, menjelaskan bahwa berlama-lama berselancar du dunia maya dan aktif di jejaring sosial tidak serta-merta membuat seseorang kehilangan empati. Sebab, pada dasarnya empati virtual dan empati dunia nyata itu sama.

Rosen mencontohkan, dengan keberadaan Facebook dan segala fiturnya, maka seseorang dapat merasakan hal yang sama seperti ketika dicintai di dunia nyata. Seseorang yang masuk dalam daftar pertemanan juga akan mengetahui dengan cepat apa yang sedang dialami atau dilakukan seseorang dengan melihat recent update statusnya. Dari situ, maka dapat dikatakan sosial media atau juga internet pada umumnya, tidak membuat seseorang kehilangan empati.

Akan tetapi, penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh seorang profesor yang mendalami bidang komunikasi massa dari Stanford University bernama Cliffor Nass. Ia menjelaskan bahwa satu hal kecil yang dapat membuat kita kembali menjadi manusia adalah dengan memperhatikan orang lain di lingkungan sekitar.

Banyak penelitian-penelitian serupa yang dilakukan dengan hasil yang juga masih beragam. Bahkan sampai sekarang pun belum ditemukan jawaban pasti bahwa internet, digital teknologi, dan sosial media tersebut memiliki efek buruk atau baik bagi manusia.

Tentunya, semua hal yang dilakukan secara berlebihan pastinya tidak baik dan begitu pula sebaliknya. Jika B’timers dapat memilih dan memilah mana yang harus dilakukan dan yang harus ditinggalkan, maka sisi empati dari Anda juga akan terus terjaga tanpa terganggu kemajuan internet dan teknologi.

Share This Article