#SaveAmarilis: Generasi Masa Kini Makin Abai? | Breaktime
#SaveAmarilis: Generasi Masa Kini Makin Abai?
02.12.2015

Jika Belanda terkenal dengan bunga tulip warna-warni yang mekar dengan indahnya, Indonesia juga punya taman bunga amarilis yang memukau. Sebelumnya, keberadaan taman yang terletak di kawasan Desa Salam Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta ini tak terlalu ramai dibicarakan. Namun setelah ada aksi ‘injak-menginjak’ bunga yang dilakukan para pengunjung remaja beberapa hari lalu, taman ini jadi ramai diperbincangkan.

Banyak yang menyayangkan rusaknya hamparan bunga amarilis tersebut, apalagi tumbuhan satu ini hanya mekar setahun sekali. Uniknya, walaupun banyak orang yang menyayangkan aksi tersebut, tidak sedikit para pelaku justru mengatakan bahwa mereka tidak salah. Bahkan ada yang dengan sombongnya mengatakan hal itu adalah wajar karena mereka telah membayar untuk memasuki kawasan tersebut.

Tentu saja hal tersebut memantik reaksi di media sosial. Muncul meme-meme sindiran yang memajang foto para remaja tengah ber-selfie ria di tengah hamparan bunga amarilis. Bukannya meminta maaf, banyak pelaku yang justru menuding balik masyarakat yang mengomentari aksi tersebut di media sosial.

Menjadi satu hal yang cukup mengecewakan mengapa sekarang ini banyak remaja atau anak-anak muda yang cenderung acuh dan tidak peduli akan berbagai hal. Secara umum, apa yang dilakukan dan dialami generasi zaman sekarang ini disebut juga dengan nama anakronisme. Dalam kamus Bahasa Indonesia, anakronisme memiliki artian suatu ketidakcocokan dengan zaman tertentu.

#SaveAmarilis: Generasi Masa Kini Makin Abai? | Breaktime
Para milenial akan lebih mudah menghujat dan cenderung cuek akan apa yang telah mereka lakukan

Ketika seseorang sudah merasa tidak cocok, maka sisi ketidakpedulian juga secara otomatis akan muncul dengan sendirinya. Bahkan walaupun tidak dapat dihantam rata semuanya, akan tetapi dengan sifat semacam ini, maka akar budaya Indonesia, seperti keramahan, saling menghargai, tolong-menolong dan toleransi juga perlahan memudar.

Menurut seorang professor sekaligus psikolog dari San Diego State University, Jean Twenge, para milenial atau generasi zaman sekarang ini lebih narsis dan suka mempertontonkan diri mereka sendiri sekaligus lebih memilih untuk berada dalam lingkarannya saja daripada harus keluar dan mengurusi hal lain yang tidak menguntungkan bagi mereka. Dan ketika mereka mendapatkan masalah atau dituduh bersalah, maka pembelaan dan pembenaran diri akan menjadi senjata utamanya.

Selain faktor lebih narsis dari generasi sebelumnya, keegoisan dan sifat ambisius juga merupakan hal lain yang membuat para remaja menjadi acuh atau abai akan keadaan sekitarnya.

Bahkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Sarah-Jayne dari University College London Institute of Cognitive Neuroscience, menjelaskan bahwa medial prefrontal cortex yang terletak di otak bagian depan para milenial, tidaklah secepat dan sesensitif pada generasi sebelumnya. Oleh karenanya, generasi masa kini cenderung kurang bisa berpikir cepat dan lebih suka berlaku sekehendak hatinya sendiri tanpa memikirkan efek ke depannya.

Oleh karenanya, peran orang tua, lingkungan dan juga pemerintah sangat diperlukan untuk memberikan pemahaman dan pembelajaran mental kepada para remaja, karena selama ini mereka hanya menitikberatkan pada sisi akademisnya saja. (das)

Share This Article