Persimpangan Antara Passion dan Deadline | Breaktime
Persimpangan Antara Passion dan Deadline
08.12.2016

Generasi milenial selalu disibukkan dengan segudang aktivitas yang menuntut produktivitas. Bekerja secara profesional, sungguh terasa fun jika profesi yang digeluti memang benar-benar sesuai dengan passion. Namun, tentu profesionalisme akan selalu berbanding lurus dengan tuntutan deadline. Maka tak jarang banyak yang menganggap deadline sebagai ‘momok’ karena kehadirannya tanpa mengenal waktu ataupun jeda. Passion sendiri sering diartikan sebagai gairah yang benar-benar dapat memberikan motivasi seseorang untuk melakukan sesuatu.

Memiliki pekerjaan sesuai passion memang idaman setiap orang, akan tetapi hal ini bukanlah hal yang mudah karena tak setiap orang memiliki kesempatan untuk mendapatkannya. Namun, dunia pekerjaan tentu tak pernah luput dari tanggung jawab deadline, di mana terkadang kedua hal ini menjadi bumerang dan saling bertolak belakang. Sebagaimana terdapat prinsip dasar apabila kualitas tidak bisa berjalan beriringan dengan kuantitas. Nah, inilah yang kemudian memicu munculnya gesekan antara passion dan deadline, di mana deadline akan selalu mengutamakan kuantitas, sedangkan saat berbicara passion, kualitas adalah harga mati yang sulit untuk ditawar.

Karena saat terjun dalam realita pekerjaan, maka risiko untuk dikejar deadline memang sudah tak bisa terhindarkan yang kemudian memiliki imbas pada kestabilan mood serta produktivitas kinerja seseorang. Di situasi seperti inilah sebenarnya keyakinan Anda diuji, keyakinan tentang apa sebenarnya passion Anda, keyakinan sebenarnya apa yang Anda lakukan dengan passion yang Anda miliki. Keyakinan inilah yang nantinya menjadi jalan penuntun meraih kesuksesan karier.

Persimpangan Antara Passion dan Deadline | Breaktime
Selalu ada cara untuk menikmati kejaran deadline

Tak hanya masalah keyakinan akan passion, tapi ketegasan Anda dalam mengambil keputusan juga dibutuhkan dalam situasi seperti ini. Di mana keputusan yang dimaksud adalah apakah Anda akan tetap melanjutkan atau memilih untuk berhenti. Keputusan ini hendaknya tidak diambil secara gegabah, cobalah cari waktu ‘me time’ sebagai salah satu media relaksasi dan instropeksi diri agar keputusan yang dihasilkan lebih rasional. You know magic happens when you be true to you. Free your soul, know yourself better and let your mind take you around.

Masa-masa ini tentu tak jarang akan memicu timbulnya krisis passion, untuk mengatasinya Anda bisa melakukan hal-hal lain di luar job desk pekerjaan, seperti sejenak melakukan relaksasi mulai dari mendengarkan musik dan melakukan hal-hal kecil yang dapat membuat mood stabil agar dapat kembali fokus. Di sisi lain ritme kerja pun tidak menjadi tegang dan Anda dapat tetap produktif di tengah terpaan deadline yang terus menghadang. Tak hanya itu Anda juga harus menanamkan sikap optimis jika dengan passion semua tekanan yang ada bisa dilalui. Jika memang pekerjaan yang Anda geluti adalah passion yang diinginkan maka tetaplah maju untuk melewati semua tantangan yang ada, karena dengan passion tak ada kata menyerah.

Jadi inilah sebabnya mengapa mengenali diri, memahami potensi yang dimiliki sampai dengan passion apa yang diinginkan menjadi hal yang penting bagi kehidupan karir. Faktor meraih kesuksesan memang tak hanya bersumber dari passion, tapi setidaknya dengan passion Anda memiliki arah tujuan yang jelas. Sebagaimana kutipan dari tokoh terkenal pendiri salah satu raksasa gadget Apple, Steve Jobs, “The only way to do great job is to love what you do”.



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE