Perlunya Rasa Syukur di Lingkungan Kerja | Breaktime
Perlunya Rasa Syukur di Lingkungan Kerja
27.10.2017

Di era industri postmodern saat ini, banyak karyawan yang mengeluhkan lingkungan kerja yang melelahkan dan dipenuhi moralitas serta emosi negatif. Saat ini telah bermunculan banyak workshop yang berupaya meningkatkan semangat kerja para karyawannya melalui pemberian apresiasi dan merangsang kelompok pekerja yang penuh dengan rasa syukur. Dengan demikian, lingkungan kerja menjadi lebih manusiawi dan nyaman. Namun adakah relevansi antara rasa syukur para pekerja dengan performa kerja itu sendiri?

Tingkat kepuasan kerja yang rendah rupanya berpengaruh signifikan terhadap kuantitas maupun kualitas tidur. Tak hanya itu, B’timers juga akan sulit beristirahat dengan tenang apabila memiliki pemikiran yang kurang inovatif, performa kerja yang rendah, hingga terpapar risiko cedera saat bekerja. Kurang tidur juga dapat berdampak negatif terhadap hubungan interpersonal antar karyawan sehingga mengurangi rasa kepercayaan satu sama lain serta menyebabkan Anda dan kolega cenderung tidak sabar dan mudah frustrasi. Hal tersebut disebabkan oleh pentingnya tidur yang cukup untuk mengembalikan energi tubuh dan pikiran untuk beraktivitas. 

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Kinerja Otak dalam Mencerahkan Suasana Hati

Dalam sebuah riset, sekelompok orang yang diminta menulis jurnal ucapan rasa syukur sekitar 30 menit setiap malam. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa mereka lebih mudah untuk tetap segar dan terjaga di siang hari, dibandingkan dengan kelompok lain yang tidak melakukan praktik menuli jurnal semacam itu. Penelitian yang lain menunjukkan bahwa pola pikir dan suasana hati yang penuh dengan rasa syukur membuat seseorang dapat tidur dengan lebih nyenyak di malam hari dan bangun lebih segar keesokan paginya. 

Perlunya Rasa Syukur di Lingkungan Kerja  | Breaktime
Rasa syukur menjadi salah satu faktor yang meningkatkan semangat dan performa kerja

Riset yang sama menyimpulkan bahwa orang-orang yang penuh rasa syukur memiliki pre-sleep cognition positif yang lebih besar. Pikiran dan kritik negatif, sebaliknya, cenderung menghambat rasa mengantuk alami dan mengurangi kualitas tidur. Dengan adanya pikiran positif nan menyenangkan, orang-orang penuh syukur akan mudah merasa mengantuk sehingga dapat beristirahat dengan lebih lelap dan kembali bekerja dengan penuh semangat keesokan harinya.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Trik Survive Bekerja di Rumah Bersama si Kecil

Rasa syukur juga dapat mengurangi kecenderungan seseorang untuk haus akan pengakuan. Rasa haus akan pengakuan merupakan salah satu hal yang menghambat produktivitas kerja serta berpengaruh negatif terhadap kinerja suatu organisasi maupun para anggotanya. Haus pengakuan juga dapat memicu terjadinya tindakan agresif, kekerasan, sabotase, penurunan performa kerja, hingga perilaku mengancam dan saling menyalahkan antar rekan kerja. Rasa haus akan pengakuan lebih mudah muncul pada lingkungan kerja dengan budaya profesional yang buruk seperti gosip, complain berlebihan, serta emosi negatif lainnya.

Haus pengakuan sebenarnya relatif normal, kecuali gejala yang berlebihan pada beberapa orang tertentu yang mudah merasa tidak puas terhadap hal yang diterima dan merasa memiliki banyak hak yang belum terpenuhi, misalnya gaji, kenaikan jabatan, hingga pujian sederhana. Seseorang yang haus pengakuan dan berhak atas segala hal cenderung sulit bersyukur. Sekelompok individu yang penuh rasa syukur akan menciptakan lingkungan kerja yang baik dan memunculkan emosi positif yang bermanfaat bagi lingkungan kerja tersebut, seperti rasa iri, mudah kesal, serakah, hingga sinisme. Tak hanya itu, semakin tinggi rasa syukur seseorang, semakin rendah pula perilaku agresif yang ditunjukkannya.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Yuk Kenali Tanda-Tanda Stres Berikut Ini

Adanya rasa syukur juga akan mendorong B’timers untuk cenderung bersikap baik dan ringan tangan. Sebuah ulasan terhadap lebih dari 50 penelitian menunjukkan bahwa rasa syukur berkaitan erat dalam menciptakan profesionalitas dalam organisasi kerja. Para karyawan akan lebih mudah mengajukan diri untuk mengerjakan beban kerja ekstra, meluangkan waktu untuk membimbing rekan kerja, bersikap empati terhadap masalah kerja yang dialami orang lain serta senantiasa menyemangati dan memuji orang lain. Rasa syukur di lingkungan kerja pada akhirnya akan menginspirasi sesama pekerja untuk saling membantu dan menahan diri sendiri untuk merugikan orang lain.

Dengan adanya rasa syukur, seseorang akan menunjukkan performa maksimal dalam hal kognitif serta cenderung lebih kreatif saat bekerja. Pola pikir inovatif, fleksibilitas, keterbukaan, serta keinginan untuk senantiasa belajar juga lebih banyak dimiliki oleh pekerja yang penuh rasa syukur. Dalam suatu studi terbaru ditemukan bahwa dari keseluruhan 24 karakter positif yang dimiliki seseorang, semangat belajar dan rasa syukur merupakan karakter yang paling sering muncul pada sebagian besar orang dengan emosi dan perilaku positif.  Rasa syukur memang tidak bisa diperoleh dengan mudah tanpa adanya kesadaran dalam diri, namun hal tersebut dapat secara maksimal mendongkrak performa kerja seseorang. Apakah B’timers juga termasuk pekerja yang senantiasa dipenuhi rasa syukur? (dee)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE