Perfeksionis Identik dengan Penderita OCD, Really? | Breaktime
Perfeksionis Identik dengan Penderita OCD, Really?
11.05.2015

Obsessive-compulsive disorder (OCD) merupakan sebuah kelainan psikologis yang dapat menyebabkan penderitanya memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang kompulsif ataupun memaksa. Kelainan satu ini ditandai dengan munculnya kecemasan dan obsesi berlebihan, yang seringkali sampai mempengaruhi kejiwaan seseorang. 

Biasanya, penderita OCD melakukan hal-hal yang cenderung aneh dan berlebihan dalam keseharian, misalnya saja tidak mau menyentuh barang-barang karena takut terkontaminasi bakteri atau tidak bisa melihat barang yang tidak ditata secara simetris. Ada juga penderita OCD yang sudah sampai pada tahap melukai diri sendiri dan memiliki pikiran-pikiran negatif seperti menyerang seseorang atau menginginkan kekerasan dalam hubungan seksual.

Penderita OCD biasanya kesulitan untuk bergaul jika tidak bisa mengontrol dirinya sendiri
Penderita OCD biasanya kesulitan untuk bergaul jika tidak bisa mengontrol dirinya sendiri

Ada dua langkah yang bisa diambil untuk mengobati OCD. Yang pertama adalah terapi perilaku kognitif, yang akan membantu mengurangi kecemasan dan bisa merubah cara pandang dan perilaku penderita. Yang kedua adalah adalah penggunaan obat-obatan untuk mengendalikan perilaku kompulsif yang sudah tidak bisa dikontrol dengan tindakan.

Jika dikaitkan dengan perfeksionisme, tentu saja hal tersebut sangat berbeda dengan OCD. Pada dasarnya semua orang memiliki sifat perfeksionisme, meskipun tidak memiliki gangguan kecemasan. Namun jika sifat perfeksionis tersebut sudah sangat berlebihan, bisa jadi hal tersebut menjadi pemicu timbulnya OCD. 

Menurut Michael Mufson, MD, seorang psychiatry dari Harvard University, perfeksionis merupakan satu set gejala yang terdapat pada OCD. Jika dibilang orang perfeksionis sudah pasti menderita OCD, hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Namun, penderita OCD sudah tentu bersifat perfeksionis.

Jadi, boleh-boleh saja nih ‘keras’ pada diri sendiri untuk mencapai hasil usaha yang maksimal. Tapi ingat B’timers, tak perlu takut melakukan kesalahan dan kegagalan karena dari situlah justru Anda bisa mengenali dan memaksimalkan potensi diri. Semangat! 

Share This Article