Antisosial vs Selektif Sosial, Apa Sih Bedanya? | Breaktime
Orang Antisosial vs Selektif Sosial, Apa Sih Bedanya?
03.12.2015

Seringkali banyak orang yang keliru mempersepsikan antisosial dengan mereka yang sekadar selektif sosial. Yap, orang antisosial sering memutuskan interaksi dengan banyak orang karena anggapan tertentu. Sementara itu, orang selektif sosial hanya menentukan dengan siapa mereka layak berbagi kehidupannya.

Jadi bisa dibilang orang selektif sosial hanya menunggu waktu yang tepat untuk bisa dekat dan open dengan orang. Sementara orang antisosial hampir dipastikan sengaja menutup kemungkinan dirinya dekat dengan orang baru dan hanya berinteraksi dengan orang-orang lama yang sudah dikenalnya dengan baik. It’s a bit tricky but there’s a difference between both.

Nah, agar bisa membedakannya dengan lebih baik, yuk kenali ciri-ciri orang antisosial lebih detail berikut ini, yuk!

Miskin empati

Rata-rata orang antisosial memiliki tingkat kepekaan yang begitu rendah. Mereka tidak ambil pusing dengan perasaan orang lain bila mengeluarkan kata-kata kasar, pandangan sinis, atau sikap yang menyinggung perasaan. Semuanya dilakukan dengan ringan tanpa berpikir konsekuensinya pada orang lain. Sebab sejak awal mereka yakin tidak merasa menyakiti orang lain.

Antisosial vs Selektif Sosial, Apa Sih Bedanya? | Breaktime
Orang antisosial sering susah mendengarkan

Sibuk berteori dan berpendapat sendiri

Jangan kaget bila orang antisosial akan menjadi pendengar paling buruk. Sebab, mereka kerap berpikir bahwa apa yang B’timers katakan adalah nonsense dan worthless. Alih-alih mendengarkan, mereka justru siap memotong pembicaraan Anda dengan berganti topik semaunya, dengan pendapat sekenanya, atau bahkan mematahkannya dengan teori dari buku yang dianggapnya keren.

Tak bisa menghargai pasangan

Menjalin hubungan dengan orang antisosial juga bikin Anda harus siap akan rasa sakit bertubi-tubi. Sebab, orang antisosial kerap hanya “mengeksploitasi” tubuh pasangannya atau bahkan tak memikirkan tanggung jawab untuk masa depan sama sekali. Pasangan ada hanya untuk dimainkan karena selama ini ia sudah cukup bahagia hidup sendirian dan yakin tak akan ada masalah serius bila harus pisah dengan pasangan sekalipun.

Susah taat pada norma yang ada

Entah mengapa, susah sekali bagi orang antisosial untuk mematahui peraturan yang berlaku di tengah masyarakat. Pikiran “aturan ada untuk dilanggar” kerap bergema dalam benak mereka dan sering membuatnya tak segan melakukan tindak kriminal. Tak ayal, orang antisosial kerap berurusan dengan kepolisian.

Wah, ngeri juga ya, B’timers! Well, penyebab dari antisosial ini sendiri sebenarnya bermacam-macam. Mulai dari trauma dengan pertemanan, keluarga, korban bullying, atau kekecewaan mendalam pada manusia, semua bisa mengubah seseorang untuk menjadi antisosial.

Meski begitu, mereka ada bukan untuk sepenuhnya dijauhi, ya. Dukungan keluarga, teman dekat, serta terapi psikologi sangat dibutuhkan mereka demi masa depannya. Sebagai teman, perlakukan mereka sebaik yang B’timers bisa tanpa membebani diri Anda juga ya. (vsc)

Share This Article