Mungkinkah Anda Alami False Memory Syndrome? Kenali Tandanya! | BREAKTIME
Mungkinkah Anda Alami False Memory Syndrome? Kenali Tandanya!
22.03.2015

“Memory is the diary that we all carry about with us”

-Oscar Wilde-

Masih ingatkah B’timers dengan kisah seorang matematikawan ternama Amerika yang pemikirannya diterapkan pada game theory, differential geometry, dan partial differential equation? Yap, adalah John Forbes Nash, Jr, ilmuwan ternama yang sukses menyabet Nobel Laureate in Economics. But, the case is, tahukah Anda bahwa ilmuwan sekaliber John Nash sebenarnya pernah mengalami False Memory Syndrome (FMS)?

False memory syndrome sebenarnya mengacu pada sebuah kondisi ketika seseorang meyakini sebuah pengalaman atau memiliki ingatan kuat tentang sesuatu padahal mereka sama sekali tidak pernah mengalaminya. Singkat katanya, ini adalah keadaan ketika Anda mengalami keadaan memori yang campur aduk. Lalu bagaimanakah gejalanya?

Well, pada umumnya memori campur aduk ini menyerang orang yang memiliki pengalaman trauma dalam hidupnya. Dalam keadaan ini, akan muncul keinginan kuat untuk melupakan atau menindas ingatan tersebut. Hal inilah yang disebut ahli neurolgi sekaligus Bapak Psikoanalisis, Sigmund Freud sebagai defense mechanism.

Menurut Freud, pemblokiran ingatan menyakitkan tersebut akan berguna untuk menurunkan rasa kecemasan dalam diri seseorang. Cara mudah untuk mendeteksi memori campur aduk ini juga bisa dengan mengingat sekilas daftar kata berikut ini: Sharp thread sting eye pinch sew thin mend.

Nah, setelah beberapa saat, seseorang akan bertanya, adakah keberadaan kata needle dalam barisan kalimat tersebut. Bila B’timers menjawab iya, bisa jadi Anda termasuk orang yang mengalami memori campur aduk lantaran terpaku pada sebuah kalimat yang semuanya mengarah pada hal yang terkait dengan jarum.

Namun pada tahap memori campur aduk yang parah, Anda bisa mengalami apa yang terjadi pada John Nash dalam film “A  Beautiful Mind” (2001). Di film tersebut, John Nash kesulitan untuk membedakan antara hal yang bersifat nyata dan sekadar ilusinya semata. 

Bahkan, ia telah lama berkeyakinan memiliki seorang teman akrab semasa kuliah di Princeton University, Charles Herman, yang sayangnya keberadaan orang tersebut tak pernah ada di dunia nyata. Somehow, that sounds scary, doesn’t it?

Untuk menangani memori campur aduk yang parah, psikoterapi akan dilakukan pada diri seseorang guna mengembalikan memori yang berusaha untuk ditekan atau dihilangkan tersebut sehingga trauma tertentu dapat ditangani secara lebih baik. 

Share This Article