Bos Berperingai Buruk Sebab Tekanan Darah Naik | Breaktime
Memiliki Bos Berperingai Buruk Sebabkan Tekanan Darah Naik
03.01.2016

Pekerjaan paling enak memang adalah yang bekerja untuk diri sendiri atau dalam artian menjadi bos diri sendiri, namun ketika pilihan tersebut belum memungkinkan, maka bekerja dengan ikut orang lain atau menjadi pegawai juga tidak menjadi satu hal yang merugikan.
Tentunya, ketika harus menjadi pegawai, ada banyak sekali aturan yang mengikat dan B’timers harus menuruti apa yang sudah ditetapkan dalam sebuah lingkungan kerja. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya menjadi stres, tertekan bahkan depresi karena dunia kerja yang begitu keras dan memiliki aturan ketat.
Hal tersebut ditambah lagi dengan memiliki atasan yang tidak mau tahu dan tidak peduli akan karyawannya. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan para peneliti dari Sant Mary’s University di Halifax, Nova Scotia, Kanada, mengungkapkan bahwa hubungan negatif dengan atasan dapat meningkatkan tekanan darah dan juga menaikkan hormon penyebab stres dalam tubuh.

Bos Berperingai Buruk Sebab Tekanan Darah Naik | Breaktime
Walaupun hirarki itu pasti ada dalam sebuah lingkungan kerja, akan tetapi hubungan baik antar-semuanya juga tetap wajib terjalin

Dengan meningkatnya tekanan darah dan juga stres, maka risiko akan masalah pada jantung, seperti hipertensi dan penyakit kardiovaskulas juga akan meninggi. Apa yang diungkapkan tersebut juga menjadi penerus dari penelitian yang dilakukan para pakar psikologis sebelumnya yang menyatakan bahwa hubungan baik antara pimpinan dan bawahan akan sangat baik untuk kesehatan jantung.
Tidak hanya itu saja, ketika pimpinan sudah tidak mau tahu akan keluhan para karyawannya, maka dapat membuat orang-orang yang bekerja di bawahnya merasa sangat tidak nyaman dan kehilangan respek akan dirinya. Secara jelas, tekanan dan sifat selfish dari seorang pimpinan terhadap bawahannya merusak fisik, mental dan emosional para bawahan.
Bahkan tidak sedikit yang memberontak, membalas keacuhan dengan keacuhan serta memutuskan untuk mengakhiri karirnya di tempat dia bekerja alias resign. Memang perusahaan tidak akan langsung bangkrut dengan hilangnya karyawan, namun tentunya akan membuat pekerjaan yang ditinggalkan menjadi terbengkalai. Ditambah lagi ketika karyawan yang memutuskan keluar memiliki peranan penting dan vital.
Oleh karenanya, jika Anda adalah seorang bos atau pimpinan, ibaratkan lingkungan kerja adalah sebuah tubuh dan Anda sebagai otaknya, sedangkan para karyawan adalah organ. Jika terjadi kesinambungan antarlini, maka tubuh tersebut akan lebih leluasa bergerak atau ketika digunakan beraktivitas. (das)

Share This Article