Melihat Dunia dari Sudut Pandang Seorang Transgender | Breaktime
Melihat Dunia dari Sudut Pandang Seorang Transgender
30.06.2015
“But you can only lie about who you are for so long without going crazy.” – Ellen Wittlinger

Sangat sensitif, penuh kontroversi. Begitulah saat kita dihadapkan pada hal-hal yang berkaitan dengan transgender. Sebagai orang awam, kita memang hanya bisa melihat dan berkomentar saja, B’timers. Namun, sepandai apapun kita, takkan bisa memahami betul emosi yang sebenarnya dirasakan seorang transgender. That’s why we can’t just be judgemental about them.

Banyak isu yang muncul tentang masalah transgender, terutama kaitannya dengan masalah psikologis atau kejiwaan. Perlu diketahui bahwa akarnya terletak pada gender dysphoria atau ketidakpuasan terhadap jenis kelamin. Inilah yang membuat seseorang merasa terlahir dalam tubuh yang salah, hingga ingin mengubah seluruh tubuh menjadi lawan jenis  dari gendernya.

Di masa kanak-kanak

Anak-anak transgender diberitahu orangtuanya bahwa perilaku mereka salah. Contohnya anak laki-laki yang merasa dirinya perempuan, akan dimarahi saat ia bermain boneka dan mencoba make up. Ini membuat mereka ingin terus menyembunyikan diri mereka yang sesungguhnya.

Saat melewati pubertas

Ini biasanya menjadi masa yang sulit, sebab tubuh mulai berubah sesuai gender. Seorang transgender akan merasa risih terhadap perubahan dirinya yang dirasa tidak sesuai, seperti perubahan pada payudara dan munculnya bulu badan.

Memasuki masa awal dewasa

Di masa ini, umumnya seseorang sudah bebas secara emosional dan keuangan. Ini membuat sejumlah transgender memutuskan untuk melakukan operasi dan mengubah gender mereka seutuhnya. Namun, faktor keluarga dan minimnya informasi kadang masih menjadi penghalang.

Transgender sulit terbuka dan mengungkapkan apa yang mereka rasakan
Transgender sulit terbuka dan mengungkapkan apa yang mereka rasakan

Menginjak usia paruh baya

Sejumlah transgender memutuskan untuk mengubah gender mereka di usia ini. Beratnya, hasilnya bisa jadi tak memuaskan. Ditambah lagi, keluarga dan teman yang jauh lebih sulit menerima karena selama bertahun-tahun tak mengetahui bahwa mereka adalah transgender. Juga cenderung akan ada penyesalan yang dirasakan seorang transgender karena terlanjur hidup lama dalam tubuh yang “salah”.

Berbagai emosi terpendam inilah yang umumnya dirasakan oleh seorang transgender. But one thing, they are just ordinary people. Para transgender adalah orang-orang yang waras dan pada dasarnya mereka juga manusia biasa. Bukan kemauan mereka untuk menjadi transgender, B’timers. Everyone is just born different.

Share This Article