Lawan Islamophobia, Banyak Siswi Non-muslim di Amerika Serikat Kenakan Hijab
Lawan Islamophobia, Banyak Siswi Non-muslim di Amerika Serikat Kenakan Hijab
21.12.2015

Setelah tragedy penyerangan di Paris, Prancis, awal bulan November 2015 lalu, ditambah dengan berbagai penembakan di Amerika Serikat, membuat banyak orang yang merasa takut sekaligus benci dengan pemeluk agam Islam.

Bahkan jika B’timers mengikuti perkembangan Islamphobia di Negara Paman Sam sana, banyak orang yang melakukan pembullyan secara massal atau juga tempat umum yang menolak didatangi orang yang mengenakan hijab atau berpenampilan seperti layaknya muslim pada umumnya.

Intimidasi seperti ini mau tidak mau membuat banyak orang Islam di Negara Adidaya tersebut menjadi takut untuk keluar atau beraktivitas di luar rumah. Walaupun banyak yang benci terhadap pemeluk agama Islam, namun tidak sedikit pula yang memberikan perlindungan dan respek terhadap orang-orang muslim.

Salah satu contohnya seperti yang dilakukan puluhan siswi non-muslim berkulit putih di Vernon Hills High School, Chicago Illinois, Amerika Serikat. Mereka melakukan gerakan solideritas yang diberi nama “Walk a Mile in Her Hijab” atau Berjalan Satu Mil Mengenakan Hijab(nya). Hal ini merupakan social experiment yang bertujuan untuk mengetahui apakah aka nada gangguan terhadap diri orang yang mengenakan hijab ketika mereka berjalan di tempat umum.

Bahkan, sang Kepala Sekolah Jon Guillaume memuji kreativitas dan gerakan moral yang dilakukan oleh para siswi sekolahnya tersebut.

Dengan gerakan tersebut, maka dapat menghapus stereotip dan memunculkan solidaritas di masyarakat setelah terjadinya berbagai peristiwa mengatasnamakan Islam
Dengan gerakan tersebut, maka dapat menghapus stereotip dan memunculkan solidaritas di masyarakat setelah terjadinya berbagai peristiwa mengatasnamakan Islam
Bahkan mereka siswi non-muslim yang ikut meramaikan acara ini tidak merasa canggung atau takut, karena mereka hanya berharap tidak ada deskriminasi lagi
Bahkan mereka siswi non-muslim yang ikut meramaikan acara ini tidak merasa canggung atau takut, karena mereka hanya berharap tidak ada deskriminasi lagi

“Dengan banyaknya tragedy yang terjadi akhir-akhir ini, saya berpikir bahwa susah untuk menjadi seorang muslim di sekolah, dalam masyarakat bahkan di Amerika Serikat. Dengan gerakan seperti ini, saya piker merupakan satu hal yang positif untuk dilakukan dan dapat mengahpus stereotip yang terjadi selama ini. Saya bangga dengan mereka yang ikut melakukan gerakan moral ini,” jelas Guillaume.

Gerakan yang sudah direncakan sejak akhir Mei 2015 tersebut dimulai sejak hari Rabu (16/12) kemarin dan dipelopori oleh anggota dari Muslim Student Association.

Tidak ada satupun agama di dunia yang mengajarkan akan kebencian, namun kenapa permusuhan dan perselisihan dengan mengatasnamakan agama terjadi, hal itu dikarenakan persepsi semu serta fanatisme sempit dari masing-masing pemeluk agama yang beranggapan bahwa agamanya paling benar dan yang lain salah.

Padahal seperti yang B’timers ketahui, Tuhan hanyalah satu dan selalu menyuruh umat manusia untuk berbuat kebajikan. Lantas, jika ada keburukan terjadi, maka itulah pilihan yang diambil manusia sendiri dengan melawan atau salah mengartikan perintah Tuhannya

Share This Article