Kisah Inspiratif Mantan Penderita Ebola yang Berhasil Bertahan Hidup | BREAKTIME
Kisah Inspiratif Mantan Penderita Ebola yang Berhasil Bertahan Hidup
05.04.2015
“Natural forces within us are the true healers of disease.”

-Hippocrates-

Jika seseorang yang B’timers kasihi sedang sakit, tentu tak perlu berpikir dua kali untuk merawatnya. Namun bagaimana jika maksud dan tujuan baik tersebut justru membuat Anda ikut menderita sakit yang serius hingga beresiko kematian? Itulah yang dialami beberapa para wanita hebat di Afrika Barat.

Selama pertengahan 2014 lalu, virus Ebola telah melanda wilayah Afrika Barat seperti Guinea, Sierra Leone dan Liberia. Virus ini sendiri memang tidak mudah dikenali karena gejala awalnya yang seperti penyakit flu biasa, yakni muntah, demam, rasa sakit di sekujur tubuh, dan diare. Setelah itu, penderita akan mengalami pendarahan parah di organ dalam, karenanya 90% dari korban virus Ebola tidak terselamatkan nyawanya. Sementara, obat atau vaksin untuk virus ini sendiri belum ditemukan.

Sebenarnya, jika Ebola cepat diidentifikasi, pasien punya harapan hidup yang lebih tinggi. Segelintir orang memang berhasil sembuh dari Ebola, namun dampak virus itu bahkan masih membekas bagi ex penderita, misalnya saja karena Ebola telah merenggut nyawa seluruh anggota keluarganya sehingga ia terpaksa melanjutkan hidupnya sendirian. Tak hanya itu, meski telah sembuh total tetap saja anggapan “pasien penderita Ebola” masih melekat pada dirinya dan seakan menjadi aib yang tak bisa enyah.

Tak hanya mematikan, Ebola berikan dampak psikologis bagi pasien yang telah sembuh
Tak hanya mematikan, Ebola berikan dampak psikologis bagi pasien yang telah sembuh

Seperti yang dialami seorang wanita 24 tahun bernama Mariam (bukan nama sebenanya) dari Conakry, Guinea, yang pernah tertular virus Ebola dari sepupunya. Sepupunya meninggal, juga pasangan dan anak Mariam serta ayah angkatnya. Saat Mariam jatuh sakit, kekasihnya membatalkan pertunangan mereka dan ia pun kehilangan pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah menengah.

Mariam mengaku, meski telah sembuh setidaknya selama dua minggu ia tidak berani keluar rumah sama sekali. Bahkan, beredar kabar bahwa Mariam telah meninggal dunia. Dan ketika Mariam mencoba menghubungi seorang kenalannya, ia justru mengira bahwa itu adalah telepon iseng dari orang yang hanya berpura-pura menjadi dirinya.

Meski sempat melewati masa-masa sulit, Mariam telah menemukan harapan baru dalam hidupnya. Ia kini bekerja sebagai promotor kesehata yang bertugas membantu pasien Ebola dan keluarga mereka dalam penanganan penyakit tersebut. “Things will never be as they were before, tetapi aku merasa baik-baik saja dengan hidupku yang baru, dan aku bangga jika bisa membantu para pasien Ebola dan keluarganya,” demikian yang diungkapkan Mariam.

Kisah tersebut mengajarkan bahwa seberat apapun masalah atau penyakit yang dialami, selalu ada jalan untuk bangkut dan melewati semuanya dengan keberanian serta kebesaran hati. Tetap semangat ya, B’timers!

Share This Article