Kalimat-kalimat yang Dihindari Smart People Dalam Berkomunikasi | Breaktime
Kalimat-kalimat yang Dihindari Smart People Dalam Berkomunikasi
26.12.2015

Berbanding terbalik dengan the smart peoples, orang-orang yang memiliki kepintaran rata-rata atau bahkan yang di bawahnya, cenderung akan berkata apa saja yang terlintas dalam benak dan pikiran mereka, tanpa mempedulikan efek yang terjadi setelah mereka berujar.

Namun, B’timers sadari atau tidak, banyak orang yang memiliki keunggulan dalam sisi otaknya atau orang-orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, selalu berhati-hati dalam berbicara. Hal itu disebabkan banyak hal yang salah satunya agar tidak melukai perasaan orang lain.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Talentsmart.com, orang-orang zaman sekarang ini kekurangan akan kepedulian sosial karena terfokus pada apa jawaban yang akan diberikan setelah mereka mengucapkan sesuatu dan mendapatkan tanggapan. Jadi bukan merasa ingin merasakan atau peduli dengan apa yang dirasakan seseorang, melainkan hanya ingin memberikan komentar saja.

Ternyata banyak orang yang masuk dalam kategori smart mengurangi bahkan menghindari untuk menggunakan beberapa frasa atau kalimat yang menurut orang umum adalah biasa diucapkan. Berikut ini beberapa kalimat atau frasa yang dihindari oleh smart people in such a conversation.

Good luck

Kalimat-kalimat yang Dihindari Smart People Dalam Berkomunikasi | Breaktime
Walaupun terkesan seperti doa, namun secara psikologis justru disarankan untuk tidak menggunakannya

“Good luck” atau “Semoga berhasil” memang terkesan sepele bahkan ada yang menyebutnya sebagai ungkapan doa. Namun, tahukah Anda, B’timers, tidak seharusnya ungkapan tersebut diucapkan karena apapun yang terjadi, hal tersebut bukanlah akhir dunia atau akhir dari segalanya.

Untuk itu, Anda dapat menggunakan kalimat lain, seperti “Aku tahu apa yang akan kamu lakukan (atau ambil).” Karena dengan kalimat seperti ini justru akan membuat seseorang mendapatkan suntikan dukungan dan dapat menambah rasa percaya dirinya. Sedangkan ucapan “Semoga berhasil” justru lebih terkesan tidak begitu peduli dengan apa yang akan seseorang lakukan dan basa-basi saja.

Seperti yang aku katakan sebelumnya …

Kalimat-kalimat yang Dihindari Smart People Dalam Berkomunikasi | Breaktime
Kalimat tersebut terkesan seperti merasa paling benar

Tidak jarang ada orang yang mengatakan, “Nah kan, apa aku bilang ..” atau “Seperti yang aku katakan sebelumnya …” setelah seseorang melakukan suatu kesalahan atau apa yang terjadi tidak seperti yang diharapkan atau juga melakukan pengulangan frasa ketika berkomunikasi.

Walaupun sepele, namun hal tersebut justru menandakan superioritas diri sendiri dan menganggap bahwa diri Anda-lah yang paling benar. Hal tersebut juga membuat orang lain yang mendengarkan merasa tidak nyaman.

Untuk menanggulanginya, jika sesuatu terjadi tidak seperti yang diharapkan, ada baiknya B’timers lebih memfokuskan untuk menggunakan kalimat lain yang lebih menjurus pada solusi.

Anda terlihat capek

Kalimat-kalimat yang Dihindari Smart People Dalam Berkomunikasi | Breaktime
Kalimat ini terkesan seperti Anda sedang berbasa-basi untuk menanyakan keadaan seseorang

Sepele memang mengatakan, “Anda terlihat capek” karena merupakan respon dan bentuk perhatian terhadap seseorang. Namun ternyata hal tersebut juga tidak perlu dilakukan lagi, B’timers. Kenapa? Karena hal tersebut hanya terkesan basa-basi yang dilakukan dengan terpaksa.

Oleh karenanya, lebih baik Anda menggantinya dengan kalimat, seperti “Apakah semuanya baik-baik saja?” Dengan kalimat seperti ini, Anda menunjukkan rasa perhatian yang tinggi dan berharap orang yang bersangkutan dapat share everything atau setidaknya mau bercerita kepada Anda.

Wow, Anda telah turun (berat badan) banyak

Kalimat-kalimat yang Dihindari Smart People Dalam Berkomunikasi | Breaktime
Walaupun terkadang Anda benar-benar mengungkapkan rasa kekaguman, namun kalimat tersebut memiliki unsur kritikan di dalamnya

Ada orang yang akan merasa ungkapan tersebut adalah suatu pujian dan respektasi akan usaha yang telah dilakukan, namun ternyata hal tersebut secara tidak sadar merupakan ungkapan kritik secara tidak langsung, walaupun Anda tidak merasa atau memiliki tendensi untuk hal itu.

Gunakanlah, “Anda terlihat mengagumkan.” Sama saja! Eits, berbeda lho. Dari sisi psikologis dan pemilihan katanya justru “Anda terlihat mengagumkan” lebih nyaman didengarkan karena mengandung artian perbandingan dengan sebelumnya.

Kamu terlalu bagus untuknya

Kalimat-kalimat yang Dihindari Smart People Dalam Berkomunikasi | Breaktime
Jangan katakan kalimat ini karena sama saja dengan mengatakan bahwa seseorang salah memilih di awalnya

Berbicara masalah perasaan, hati, cinta dan hubungan, maka ketika seseorang ahirnya memutuskan untuk berpisah dengan pasangannya, ada kalanya seseorang yang merasa simpati akan mengutarakan banyak kalimat yang salah satunya adalah “Langkah benar kalau kamu berpisah dengannya. Kamu terlalu bagus untuknya.”

Apabila dilihat secara sederhana, memang tidak ada masalah dengan kalimat tersebut, namun ungkapan itu memiliki ‘rasa’ yang buruk dan memposisikan orang yang bersangkutan pada posisi yang tidak mengenakkan karena secara tidak langsung menganggap bahwa pilihannya di awal hubungan adalah buruk atau salah.

Oleh karenanya, disarankan untuk lebih menggunakan kalimat yang meninggikan rasa percaya dirinya, seperti “Kerugian bagi dia” atau sejenisnya. Ungkapan tersebut selain merupakan dukungan, juga dapat berarti sebagai penggugah rasa optimis dalam diri serta tidak menyisipkan sisi kritik di dalamnya.

Terserah kamu

Kalimat-kalimat yang Dihindari Smart People Dalam Berkomunikasi | Breaktime
Kalimat ini sering digunakan untuk menutup perdebatan yang akhirnya menjadi mengambang tanpa solusi

 “Terserah kamu” atau “Apapun maumu” mungkin terdengar sepele dan sering diucapkan ketika terjadi sedikit perdebatan atau ketidakcocokan.saat berkomunikasi. Jika Anda berada dalam posisi saat sudah tidak menemukan titik temu, maka ada baiknya untuk lebih ‘menghaluskan’ kalimat yang akan digunakan, seperti contohnya “Aku juga tidak memiliki opini kuat sih, tapi apa yang kamu ungkapkan itu dapat dipertimbangkan lagi.”

Dalam percakapan sehari-hari, setiap ungkapan, kalimat atau apapun yang dilisankan dapat berimbas dengan baik juga menjadi buruk. Jadi, seperti ungkapan, “Lidah lebih tajam daripada pedang” atau “Mulutmu, harimaumu,” maka berhati-hatilah dalam berujar ya, B’timers.

Share This Article