Jebakan Friend Zone, Antara Nyaman dan Penasaran | Breaktime
Jebakan Friend Zone, Antara Nyaman dan Penasaran
26.11.2016

Pernah mengalami friend zone, B’timers? Atau, mungkin saja ini sedang terjadi pada Anda sekarang. Yap, istilah friend zone bahkan punya laman Wikipedia sendiri, lho. Zona pertemanan ini memang mengaburkan perasaan nyaman antara persahabatan dan cinta. Tapi kalau ditelusuri lagi, tidak jarang rasa cinta perlahan tumbuh karena ikatan persahabatan. Hmm, benarkah sebenarnya pria dan wanita tidak bisa “bersahabat”?

Well, anggapan yang satu ini juga jadi fenomena di kalangan milenial. Bahwa, bagaimanapun juga pria dan wanita tidak mungkin bisa bersama sebagai sahabat. Karena pasti ada benih cinta tumbuh di hati dari salah satunya. Barangkali, yang membuat Anda bertanya-tanya adalah, mengapa sepertinya sulit sekali atau bahkan tidak mungkin, Anda menjalin hubungan asmara dengan sahabat Anda sendiri, orang yang sudah Anda kenal baik dan bersama Anda dalam waktu yang terbilang lama.

Perasaan nyaman tak menutup kemungkinan perlahan akan berubah menjadi rasa penasaran. Tapi dengan alasan ‘nyaman’ kebanyakan hubungan hanya akan berakhir dalam zona pertemanan dan persahabatan. Kondisi seperti ini memang terasa timpang karena seperti kata pepatah ‘ada perasaan yang bertepuk sebelah tangan’. Hurts, we know. Namun, jika ribuan tanya yang sudah meluncur dari mulut Anda tidak kunjung terjawab, bisa jadi akhirnya Anda malah bertanya-tanya sendiri apa yang salah dengan Anda. Di saat galau seperti ini, coba biarkan logika Anda bicara. Karena pada momen seperti ini satu-satunya orang yang perlu Anda dekati, tidak lain dan tidak bukan adalah diri Anda sendiri. Akui saja, pikiran terkuras memikirkan friend zone ini, juga membuat Anda lupa diri dan bahkan mungkin menutup hati, bukan.

Jebakan Friend Zone, Antara Nyaman dan Penasaran | Breaktime
Memahami friend zone dengan mengenali diri sendiri

Saatnya tanyakan pada diri sendiri, apakah benar ini yang Anda inginkan? Coba luangkan waktu untuk kembali merenung dan introspeksi diri. Dalam perenungan terdapat dua kemungkinan, karena pada dasarnya saat berpikir manusia akan memiliki dua kecenderungan yaitu pemakaian otak kiri dan otak kanan. Otak kanan akan lebih banyak mengarahkan Anda pada sisi perasaan, sedangkan otak kiri akan lebih banyak mengarahkan pada sisi logika. Pada kondisi ini pola pikir otak kiri sebaiknya jangan sampai Anda abaikan, jika logika mulai berbicara bahwa friend zone ini bisa menjadi jalan menuju hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Kok bisa?

Simply thinking, jika tidak bisa bersama dengan dia yang kini jadi sahabat Anda, berpisahlah secara “perasaan” dan buka hati untuk menyambut cinta dari orang lain. Seperti, belajar peluang di kelas matematika saat sekolah, bukan. Yaps! Mencari jodoh memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Namun jika Anda ingin mendapatkan jodoh maka cobalah perbaiki dan kenali diri Anda lebih dalam. Dengan begitu, B’timers akan memahami apa yang sebenarnya diinginkan dan dicari, yang kemudian secara perlahan siap membuka hati.



artikel kompilasi
related img
PAPUA
related img
PAPUA
related img
PAPUA