Jangan ‘Bunuh’ Anak-Anak dengan Cacian, Stop Bullying! | Breaktime
Jangan ‘Bunuh’ Anak-Anak dengan Cacian, Stop Bullying!
11.09.2015
“Be sure to taste your words before you spit them out.”

Baru-baru ini telinga Anda pasti akrab dengan pemberitaan kasus bullying yang dilakukan oleh seorang pelajar SMPN 4 Binjai, bukan? Dalam video berdurasi beberapa menit tersebut, seorang siswi usia belia tega memaki serta melakukan tindakan anarkis pada sesama temannya.

Padahal, kasus bullying yang dilakukan pada usia anak-anak memiliki dampak sangat buruk bagi perkembangan mental mereka ketika dewasa. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam penelitian Suzet Tanya Lereya, PhD dan sejumlah rekannya dari Department of Psychology, University of Warwick.

Menurut Dr. Malluka Marshall, MD, seorang dokter anak dan internist di Massachusetts General Hospital Chelsea Urgent Care Clinic, ada sejumlah alasan mengapa bullying sangat berbahaya dan tak boleh dilakukan:

Dirundung rasa depresi

Anak yang menjadi korban bullying pada awalnya akan berusaha bersikap baik-baik saja. Namun, makin intens bullying yang dilakukan, sang korban akan merasa tidak berarti dan menyedihkan. Keadaan inilah yang membuatnya dirundung rasa depresi bertubi-tubi.

Anak yang di-bully rentan jatuh sakit
Anak yang di-bully rentan jatuh sakit

Menurunkan kesehatan

Kata-kata tajam, cacian, dan makian ternyata juga bisa membuat orang terkulai lemah berhari-hari. Pikiran mereka akan sibuk memikirkan tentang hal buruk mengenai dirinya dan tak tertarik melakukan aktivitas lain seperti makan, olahraga, atau sekadar bersenang-senang.

Keadaan ini semakin bertambah parah ketika pelecehan juga terjadi melalui cyber-bullying. Korban bullying seakan tak memiliki kawasan aman sedikitpun. Tak heran bila makin lama sistem imunitas mereka pun menurun dan rentan sakit.

Mengubah jati diri

Bisa jadi sebelum di-bully, seorang anak bisa memiliki karakter ceria dan sangat menyenangkan. Namun, pasca tindak kekerasan dan kata caci-maki, ia pun perlahan berubah menjadi sosok yang lebih tertutup dan tidak tertarik berinteraksi dengan dunia luar. Secara tak langsung, orang yang melakukan tindak pelecehan telah merampas keceriaan dan jati diri seseorang.

Menghancurkan masa depan

Tak hanya mengganggu kesehatan, bullying juga bisa merusak masa depan seseorang. Seiring dengan tekanan  mental yang dihadapi, kemampuan mereka untuk berkonsentrasi dan mengeluarkan potensi terbaik dalam dirinya pun mulai menghilang. Bahkan, sejumlah orang juga tak lagi merasa tertarik untuk mengejar mimpi karena terlanjur disergap rasa tidak berarti.

Meningkatkan pikiran bunuh diri

Sudah berapa banyak kasus seseorang ditemukan bunuh diri setelah ia mengalami pelecehan? Inilah dampak puncak dari tekanan mental dan pelecehan fisik maupun seksual yang dialami seseorang.

Korban bullying seringkali merasa hopeless dan menganggap bahwa kematian adalah satu-satunya jalan untuk mengeluarkannya dari teror mengerikan yang selama ini selalu dihadapinya.

Ternyata mengerikan sekali dampak bullying bagi kondisi kejiwaan dan masa depan seseorang, bukan? So, promise to yourself that you won’t be part of the bullies.

Share This Article