Bullying dan Hubungannya dengan Eating Disorder | Breaktime
Bullying dan Hubungannya dengan Eating Disorder
20.11.2015

Beberapa waktu belakangan, bullying menjadi sorotan media di Indonesia. Terutama karena meningkatnya kasus bullying bahkan pada anak-anak sekolah dasar, bukan hanya di kota-kota besar, tapi juga di pelosok.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Duke Medicine dan University of North Carolina School of Medicine tentang bullying menemukan sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Penelitian yang melibatkan 1.420 anak-anak, menemukan bahwa mereka yang menjadi korban penindasan memiliki kemungkinan 2 kali lebih sering mengalami bulimia dibanding dengan anak-anak yang sama sekali tidak terlibat.

Bullying dan Hubungannya dengan Eating Disorder | Breaktime
Bukan hanya kecemasan, bullying juga memicu gangguan perilaku makan

Dalam penelitian tersebut, anak-anak dibagi menjadi empat kelompok, yaitu anak yang sama sekali tidak terlibat bullying, anak yang menjadi korban, anak-anak yang kadang menjadi korban dan kadang menjadi penghasut, serta anak-anak pelaku bullying yang tidak pernah sama sekali menjadi korban.

Hasilnya, anak-anak korban bullying memiliki dua kali lebih banyak risiko gejala anoreksia hingga 11,2 persen dan bulimia hingga 27,9 persen. Anak-anak yang pernah menjadi korban sekaligus pelaku memiliki gejala anoreksia hingga 22,8 persen dan bulimia 4,8 persen. Pada pelaku bullying yang tak peenah menjadi korban, gejala bulimia terhitung cukup tinggi dengan angka 30,8 persen. Sedangkan mereka tang tidak pernah terlibat hanya memiliki persentase anoreksia 5,6 persen dan bulimia 17,6 persen.

Gangguan perilaku makan ini sebenarnya ada kaitannya dengan dampak psikologis bullying yang meningkatkan rasa cemas, depresi, bahkan penganiayaan diri sendiri. Mereka yang terlibat bullying akan membenci diri mereka sendiri karena ketidakpuasan terhadap tubuh sendiri.

Bullying dan Hubungannya dengan Eating Disorder | Breaktime
Ketidakpuasan terhadap diri sendiri bisa menjadi pemicu bullying

Cynthia M. Bulik, Ph.D, profesor gangguan makan di UNC School of Medicine, mengatakan bahwa ketidak puasan terhadap diri sendiri dapat memicu keinginan untuk mengejek orang lain. Orang yang terus menerus di ejek pun akan merasa tidak puas terhadap dirinya dan muncul kebencian.

Meskipun terlihat sederhana, gangguan perilaku makan bisa menyebabkan efek buruk kesehatan jangka panjang pada anak-anak. Namun, dengan pengamatan mendalam, termasuk keadaan ekonomi keluarga, pendidikan, genetic, dan ketahanan terhadap intimidasi, gangguan ini bisa dikurangi bahkan dihilangkan sama sekali. Kunci utamanya adalah perhatian yang besar dan pemahaman terhadap psikologis para penderita gangguan makan.

Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Eating Disorder ini mengingatkan kita sebagai orang tua, untuk mengajarkan pada anak rasa saling mengasihi sejak dini serta kemandirian dan percaya diri agar mereka terlepas dari tindakan bullying baik sebagai pelaku ataupun korban. (dfr)

Share This Article