Kasus Lamborghini Hobi Ngebut Cerminkan Karakter | Breaktime
Berkaca dari Kasus Lamborghini di Surabaya: Hobi Ngebut Cerminkan Karakter
02.12.2015

Sebuah mobil Lamborghini yang dikemudikan seorang pria muda bernama Wiyang Lautner (24) dan beradu balap dengan mobil sport lain di Jalan Manyar Kertoarjo, Surabaya berakhir tragis, di hari Minggu (29/11) kemarin. Pasalnya, mobil dengan harga di atas satu miliar tersebut hancur tak berbentuk setelah menabrak 3 orang yang satu di antaranya meninggal dunia dan 2 lainnya mengalami patah tulang.

Bukan hanya kali ini saja aksi kebut-kebutan mengakibatkan orang lain terluka atau meninggal dunia. Dan pastinya, dikarenakan seringnya aksi kebut-kebutan serta kasus kecelakaan yang disebabkannya, maka muncul pertanyaan, kenapa sih, orang suka ngebut?

Memiliki sifat agresif

Kasus Lamborghini Hobi Ngebut Cerminkan Karakter | Breaktime
Agresif boleh saja asal tahu kemampuan diri sendiri dan tidak membahayakan orang sekitarnya

Jika seseorang memiliki sifat agresif, maka cenderung akan bersikap seenaknya dan melakukan hal yang menurutnya menantang, termasuk kebut-kebutan di jalan raya. Bahkan orang-orang seperti ini tidak begitu peduli akan apa yang akan ditimbulkan jika dia mengalami kecelakaan.

Sombong

Kasus Lamborghini Hobi Ngebut Cerminkan Karakter | Breaktime
Dengan sifat sombong, maka seseorang cenderung akan mengabaikan segala yang ada

Tidak sedikit dari para pengemudi yang sering ngebut atau ugal-ugalan di jalan merasa dirinya hebat dan menganggap orang lain are bad drivers. Dengan kepongahan dan kesombongan yang sudah muncul dalam diri, maka orang jenis ini akan bertindak sesuka hatinya karena dia merasa mampu untuk memacu dan menguasai kendaraan sampai maksimal walaupun di kondisi yang minimal.

Tidak peduli orang lain

Kasus Lamborghini Hobi Ngebut Cerminkan Karakter | Breaktime
Faktor utama yang menyebabkan seseorang tidak peduli orang sekitarnya adalah rasa egois

Tanpa disadari bahwa orang-orang yang suka ngebut dan ugal-ugalan tersebut tidak peduli bahwa yang menggunakan jalanan tersebut tidak hanya dia saja, melainkan ada orang lain yang juga memakainya. Akan tetapi karena rasa agresif dan sombong, maka orang jenis ini terkesan tidak peduli bahwa pengemudi lainnya adalah manusia juga.

Lebih leluasa jika driving solo

Kasus Lamborghini Hobi Ngebut Cerminkan Karakter | Breaktime
Dengan driving solo, maka merasa tidak ada beban untuk melakukan kebut-kebutan

Ketika berkendara seorang diri, ada kalanya pengemudi akan lebih terpacu untuk ngebut karena mereka anggap apabila terjadi apa-apa, maka yang akan terkena imbasnya adalah dirinya sendiri. Akan tetapi mereka tidak sadar bahwa walaupun dia berkendara sendiri, akan tetapi ketika terjadi kecelakaan, maka ada pihak yang ikut terkena efeknya.

Memacu adrenalin

Kasus Lamborghini Hobi Ngebut Cerminkan Karakter | Breaktime
Dengan semakin merasakan naiknya kecepatan pada kendaraannya, maka semakin mengasyikkan

Ada tipe-tipe orang yang suka akan pacuan adrenalin tinggi dalam diri mereka. Banyak cara yang dilakukan untuk dapat menaikkan level adrenalin, salah satunya adalah dengan ngebut di jalan raya. Semakin kencang kendaraan yang dia naiki, semakin terasa kengerian yang menyenangkan dirasakannya.

Show off

Kasus Lamborghini Hobi Ngebut Cerminkan Karakter | Breaktime
Pamer adalah salah satu faktor utama bagi mereka yang suka kebut-kebutan

Dari berbagai poin di atas, faktor show off atau pamer juga masuk sebagai unsur penyebab kenapa seseorang suka ngebut. Khususnya bagi yang memiliki kendaraan dengan harga di atas 20 jutaan atau bahkan miliaran, maka keinginan untuk pamer kepada orang lain secara otomatis muncul.

Emosi

Kasus Lamborghini Hobi Ngebut Cerminkan Karakter | Breaktime
Pengendalian emosi sangat diharapkan bagi pengemudi usia berapapun agar tidak mencelakakan orang sekitarnya

Perkembangan emosi yang dimiliki seseorang pastinya berbeda-beda. Khususnya bagi para remaja atau orang yang akan menuju rana dewasa, kemampuan kognitif mereka belum sepenuhnya terbangun. Dikarenakan hal tersebut, maka mereka akan cenderung mudah tersulut atau terpancing banyak hal dan menjadi trigger dari naiknya emosi dalam diri.

Imitasi

Kasus Lamborghini Hobi Ngebut Cerminkan Karakter | Breaktime
Dengan semakin mengidolakan jagoan balapnya, maka semakin tinggi pula keinginan untuk mempraktikkannya di jalanan

Keinginan untuk ngebut atau memacu kendaraan di atas batas yang ditentukan pihak berwajib di jalan raya, secara tidak langsung juga disebabkan karena faktor imitasi atau meniru para pembalap yang berlaga di sirkuit. Mereka ingin seperti pembalap yang diidamkan dengan melakukan aksi kebut-kebutan.

Butuh pengakuan

Kasus Lamborghini Hobi Ngebut Cerminkan Karakter | Breaktime
Dengan sanjungan maka keinginan untuk ugal-ugalan dan ngebut di jalanan semakin besar

Tentunya semua aksi kebut-kebutan yang dilakukan memiliki satu unsur utama yang tidak boleh dilupakan, yaitu pengakuan. Rata-rata semua para pengemudi yang gemar ngebut ingin diakui atas segala yang dimilikinya, seperti kendaraan, kemampuan sampai dengan keberaniannya.

Apa B’timers termasuk pengendara yang hobi ngebut? Mulai saat ini, berkendaralah dengan lebih bijak, ya! (das)

Share This Article