Para Pelaku Korupsi Miliki Gangguan Kepribadian? | Breaktime
Benarkah Para Pelaku Korupsi Miliki Gangguan Kepribadian?
04.12.2015

Dalam beberapa minggu terakhir ini, jika B’timers mengamati pemberitaan dalam negeri, selain kasus kecelakaan mobil Lamborghini di Surabaya sampai dengan insiden penginjak-injakan Taman Bunga Amarillis di Yogyakarta, satu kasus lain yang juga sangat ramai dibicarakan adalah terkait dengan Papa Minta Saham.

Bagi yang belum paham atau mengetahui apa yang dimaksud dengan Papa Minta Saham adalah dugaan permintaan saham sebesar 20% yang dilakukan oleh Ketua DPR RI periode 2014-2019, Setya Novanto dan melibatkan banyak orang lain di belakangnya.

Dikatakan sebagai korupsi atau tidak, hal itu sangatlah bisa dan jawabannya ada di tangan para penyidik atau juga B’timers sekalian. Akan tetapi merunut dari bahasan korupsi, apakah benar orang yang melakukan hal tersebut memiliki gangguan kepribadian?

Well, mungkin terdengar sedikit mengada-ada atau melebih-lebihkan jika mengatakan bahwa para pelaku korupsi itu memiliki gangguan mental. Akan tetapi menurut seorang psikolog klinis Dr Giada Del Fabbro, kriminolog Dr Elisabeth Grobler dan dosen psikolog dari Rhodes University Alwyn Moerdyk, menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang melatarbelakangi kenapa seseorang melakukan hal tersebut dan salah satunya adalah terkait dengan kepribadian, antara lain.

Para Pelaku Korupsi Miliki Gangguan Kepribadian? | Breaktime
Para pelaku korupsi dapat diibaratkan sebagai seorang pencuri yang intelek

Gangguan empati

Orang yang mengalami gangguan pada rasa empatinya akan tidak begitu peduli dengan apa yang dia lakukan, walaupun nantinya berimbas pada kesejahteraan seseorang atau dalam lingkup yang lebih luas.

Egois

Rasa egois yang tinggi membuat seseorang lebih memprioritaskan diri sendiri dan menghalalkan segala cara untuk dapat mencapai atau memuaskan rasa tersebut.

Haus sanjungan

Seseorang yang selalu haus akan pujian atau sanjungan, maka dia akan melakukan banyak hal agar dia tetap dapat tampil sempurna dan merasa bahwa mereka layak akan hal tersebut walaupun harus melakukan cara curang.

Tentunya, semua orang memiliki persepsi sendiri-sendiri terkait dengan apa dan bagaimana korupsi itu terjadi. Namun apapun alasannya, korupsi tetap menjadi satu hal yang negatif dan tidak dapat ditolerir dari segi manapun. Setuju, B’timers? (das)

Share This Article