Baper Bisa Ubah Jati Diri, Percaya? | Breaktime
Baper Bisa Ubah Jati Diri, Percaya?
19.11.2016

Tak hanya inovasi teknologi yang mengalami perkembangan pesat, tapi berbagai istilah baru juga lahir dalam dunia pergaulan masa kini. Lahirnya istilah-istilah ini tentu tak lepas dari berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Baper yang memiliki kepanjangan dari ‘bawa perasaan’ adalah istilah yang ‘hits’ di kalangan milenial.

Menurut berbagai pendapat baper sendiri merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan kondisi seseorang yang terlalu menganggap serius hal-hal sepele, memiliki sikap terlalu sensitif dan memaknai sesuatu dengan perasaan berlebihan. Jika dilihat dari definisinya, baper tentu amat erat kaitannya dengan perasaan, yang lambat laun akan ‘menyenggol’ sisi kepribadian.

Setiap sifat tentu memiliki dua sisi yang berbeda, begitu juga dengan baper yang memiliki nilai positif dan negatif. Sisi positif yang bisa kita pelajari adalah dengan baper seseorang menjadi bisa lebih peka terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya sehingga dapat membantu meningkatkan nilai empati dan simpati. Sedangkan segi negatifnya, baper cenderung menimbulkan rasa menyakiti perasaan sendiri akibat dari rasa sensitif yang terlalu berlebihan.

Baper Bisa Ubah Jati Diri, Percaya? | Breaktime
Baper jadi ”tren”di kalangan milenial

Timbulnya efek positif dan negatif ini lambat laun akan memberikan dampak pada sisi jati diri seseorang yang akan lekat dengan image kepribadian. Lalu apakah benar baper bisa mengubah jati diri seseorang? Hal ini bisa saja terjadi jika tidak ada controlling yang baik dan tepat mengatasinya. Karena pada dasarnya pembentukan kepribadian seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai dari pola asuh orang tua, lingkungan pergaulan, motivasi diri dan sifat dasar manusia.

Ekstrovert dan introvert adalah dua sifat dasar manusia yang B’timers perlu tau, lho. Ekstrovert merupakan sifat dasar yang mudah menerima kehadiran orang lain sehingga pemilik sifat dasar yang satu ini cenderung lebih mudah beradaptasi. Sedangkan untuk introvert  justru sebaliknya, sifat dasar ini lebih tertutup. Biasanya baper akan lebih mudah dialami oleh seseorang yang cenderung introvert. Baper pada orang introvert akan sangat berbahaya jika dibandingkan dengan ekstrovert, hal ini tak lain karena introvert akan lebih memilih memendam rasa baper. Jika terlalu lama dipendam maka bukan tidak mungkin baper tersebut bisa memberikan dampak pada pola perilaku seseorang, kan.

So, agar tak mengalami krisis jati diri, yuk, mulai belajar menerima dan mencintai kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Nobody can make you happy, until you’re happy with yourself first, B’timers.  (nk)



artikel kompilasi
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE