Are You a Negative Thinker? Ini Tandanya! | BREAKTIME
Are You a Negative Thinker? Ini Tandanya!
18.03.2015

B’timers, depresi merupakan salah satu masalah kejiwaan yang banyak dialami oleh orang biasa. Jangan bayangkan bahwa seseorang yang terkena depresi pasti menunjukkan sikap yang di luar kewajaran, ya. Orang normal pun bisa disebut mengalami depresi jika ia memiliki terlalu banyak pikiran negatif yang berimbas pada kestabilan emosinya sendiri.

Biasanya, orang yang mudah depresi memiliki karakter negative thinker, alias sangat mudah berpikir negatif dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Pertanyaannya, apakah Anda seorang negative thinker yang memiliki kebiasaan seperti berikut ini?

Bersikap berlebihan

Satu pengalaman buruk saja terjadi, maka Anda berpikir setiap hal yang nantinya terjadi juga akan menjadi buruk. Akibatnya, Anda tak fokus mengerjakan sesuatu dan lebih sibuk mengkhawatirkan masa depan.

Teralihkan oleh kesalahan kecil

Ketika ada satu kesalahan kecil yang terjadi, Anda langsung melupakan segalanya dan hanya memikirkan kesalahan tersebut. Hal lain yang mestinya mendapat perhatian Anda pun jadi terabaikan.

Menyimpulkan sendiri 

“Kalau nanti saya ambil langkah ini, pasti hasilnya berantakan.” Seorang negative thinker sering menyimpulkan apa yang akan terjadi, padahal hal tersebut sama sekali belum pasti.

Mudah kecewa 

Anda mudah merasa kecewa, bersalah, frustrasi, atau marah ketika hal-hal tidak berjalan sesuai harapan. Parahnya, perasaan ini akan bertahan dalam waktu yang lama sehingga Anda tak punya waktu lebih untuk memperbaiki keadaan.

Menyalahkan diri sendiri

Negative thinker akan merasa dirinya bersalah atas suatu keadaan yang sebenarnya terjadi di luar kendali. Hal ini membuat Anda mudah putus asa dan tak akan berani melangkah maju.

Kalau kebiasaan-kebiasaan tersebut sering Anda lakukan, jangan heran jika rasa depresi dan cemas selalu menghantui. Coba ubah diri Anda menjadi seorang positive thinker, dengan meningkatkan rasa percaya diri dan menumbuhkan pola pikir optimis. 

Jika dengan menjadi seorang positive thinker Anda bisa lebih sukses, lebih sehat, dan lebih bahagia, lalu kenapa memilih menjadi negative thinker? Jangan mau terjebak, ya B’timers. Think positively!

Share This Article