Alasan Kenapa Pria Sulit Berkomitmen dalam Hubungan | Breaktime
Apa yang Membuat Pria Sulit Berkomitmen?
03.07.2015

Semua orang pasti mengetahui bahwa hubungan dalam masa pacaran hanya memiliki 2 jalan akhir, yaitu break up or getting married. Akan tetapi, bagaimana bisa sampai ke jenjang pernikahan apabila tidak target untuk mengarah ke hal tersebut?

Berbicara masalah komitmen, pastinya ada di antara B’timers yang sudah menjalin hubungan dalam waktu cukup lama, akan tetapi si dia belum juga memberikan sinyal akan melamar atau sekadar membicarakan hal-hal terkait masa depan yang lebih serius.

Pasti hal itu akan membuat Anda merasa bingung dan akhirnya menciptakan asumsi sendiri mengenai pola pikir pasangannya sampai segala sesuatu yang berkaitan dengan masa depannya. Bahkan, tidak jarang asumsi-asumsi yang lahir tersebut berujung pada pertikaian dan akhirnya membuat hubungan jadi berakhir.

Kenapa kebanyakan para kaum Adam itu susat sekali untuk mengungkapkan atau menetapkan komitmen mereka?

Jangan paksa mereka, biarkan mereka yang akan munculkan inisiatifnya
Jangan paksa mereka, biarkan mereka yang akan munculkan inisiatifnya

Secara garis besar, pria adalah makhluk dengan tingkat penggunaan logika dan rasional yang tinggi. Mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dapat berkomitmen karena mereka harus meyakinkan diri sendiri sebelum dapat meyakinkan pasangannya.

Keyakinan yang dimaksud berhubungan dengan kesiapan dari segala faktor, seperti materi, mental, sampai spiritualnya. Apabila ada satu dari faktor-faktor tersebut dirasa kurang, maka para pria cenderung tidak terlalu percaya diri untuk menyatakan bahwa mereka telah siap untuk memboyong wanita idamannya ke jenjang lebih lanjut.

Selain faktor keyakinan diri, ada pula alasan lain yang membuat pria susah untuk diajak berkomitmen, seperti masih ingin merasakan kebebasan sebagai seorang individu tanpa terikat aturan yang membatasi geraknya, masih belum yakin dengan pasangannya saat ini, sex oriented, masih tidak dapat lepas dari bayang-bayang masa lalunya, trauma akan hubungan sebelumnya, memiliki banyak teman yang masih melajang, belum siap, atau tidak percaya diri.

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk menghadapi pria seperti ini?

Dibutuhkan kesabaran ekstra untuk menghadapi tipe pria seperti ini
Dibutuhkan kesabaran ekstra untuk menghadapi tipe pria seperti ini

Pada dasarnya, sejak zaman pra sejarah, pria adalah makhluk yang diposisikan sebagai seorang yang harus ada di alam bebas dengan keleluasan gerak maksimal. Maka ketika harus dituntut untuk terikat dan dibatasi geraknya, pastinya akan ada ‘pemberontakan’ yang ditunjukkan secara langsung atau tidak langsung.

Selain itu, kebanyakan pria tidak dapat mengungkapkan perasaan mereka secara verbal. Mereka rata-rata lebih suka menunjukkan melalui perbuatan. Dalam hal ini, tidak dapat mengungkapkan perasaan bukan berarti cuek, akan tetapi mereka hanya kurang bisa melakukannya, seperti wanita yang lebih leluasa mengungkapkan kata “Je t’aime” ketika kata itu memang harus diucapkan.

Oleh karenanya, biarkan pria tetap dalam dunianya untuk berpikir dan memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya dan pasangannya. Namun, berikan batas waktu juga agar pasangan tidak terlena akan kebebasan yang diberikan.

Boys always be boys, they needs time to grow and mature. Jadi bagi B’timers, jangan paksakan diri untuk terus menuntut komitmen, karena apabila pasangan Anda tersebut memang benar-benar memiliki visi ke depan, maka tanpa harus menunggu Anda meminta, ‘cincin pengikat’ akan segera disodorkan ke hadapan Anda.

Share This Article