Terapi Gen; Harapan Baru Pengobatan Thalasemia? | Breaktime
Terapi Gen; Harapan Baru Pengobatan Thalasemia?
10.11.2017

Thalasemia adalah penyakit kelainan darah yang disebabkan adanya kecacatan sel genetik penghasil protein di dalam sel darah merah, yaitu hemoglobin. Adanya kelainan pada sel pembentuk hemoglobin ini menyebabkan jumlah hemoglobin yang terlampau sedikit sehingga mengakibatkan proses pengangkutan oksigen ke seluruh tubuh yang terhambat, dan penderita seringkali mengalami gejala-gejala yang serupa dengan penyakit anemia. Contohnya seperti mudah merasa kelelahan hingga sesak napas. Jika tidak segera dilakukan tindakan pengobatan Thalasemia, bukan tidak mungkin jika penderita mengalami gangguan fungsi organ.

Selama ini satu-satunya pengobatan thalasemia yang disarankan adalah operasi penanaman sumsum tulang belakang. Tindakan operasi ini cukup berisiko dan memakan biaya yang sangat banyak sehingga seringkali tenaga kedokteran tidak terlalu merekomendasikan mengambil tindakan operasi ini kecuali penderita memiliki thalasemia akut. Tapi baru-baru ini terdengar kabar bahwa ada metode pengobatan alternatif yang diharapkan jauh lebih efektif dari operasi sumsum tulang belakang, yaitu dengan terapi genetik. Seperti apa ya?

Terapi genetik adalah suat metode pengobatan yang dilakukan dengan cara “memperbaiki” sel genetik yang cacat dan menggantikannya dengan sel genetik yang baru. Dalam hal ini peneliti mengambil sampel sel induk yang terdapat di sumsum tulang belakang pasien, dan memasukkan jenis virus yang sudah dijinakkan bernama lentivirus yang nantinya akan dikembalikan lagi ke dalam sumsum tulang belakang. 

Terapi Gen; Harapan Baru Pengobatan Thalasemia? | Breaktime
pengobatan thalasemia ini diteliti selama 40 tahun

Lentivirus itu nantinya akan membantu sel induk yang baru untuk memproduksi sel-sel darah baru yang lebih sehat sehingga diharapkan pasien thalasemia terbebas dari transfusi darah dan bahkan tidak perlu melakukan operasi sumsum tulang belakang. Percobaan ini sebelumnya sudah dilakukan terhadap seorang penderita thalasemia di tahun 2008 dan kabarnya pasien tersebut hingga saat ini hidup sehat dan tidak membutuhkan transfusi sejak saat itu.

Penelitian terapi genetik dengan menggunakan virus sebagai medium ternyata telah berlangsung selama 40 tahun. Awalnya, peneliti memasukkan sel modifikasi ke dalam virus berjenis retrovirus yang sudah dilemahkan sehingga tidak akan mengakibatkan penyakit namun dapat menularkan sel genetik baik yang dibawanya ke jaringan tubuh pasien. Pada tahun 2000-2002, peneliti menggunakan metode pengobatan yang baru tersebut kepada 10 orang anak yang mengalami penyakit SCID (Severe Combined Immunodeficiency), atau penyakit kelainan yang mengakibatkan si penderita memiliki sistem imun yang sangat rendah.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Masalah Jerawat Di Bokong, Atasi Dengan Ini!

Semenjak menjalani proses operasi, para pasien tersebut terus menerus dipantau perkembangannya. Pada awalnya mereka menunjukkan perkembangan yang membahagiakan, dimana tubuh mereka dapat menghasilkan lebih banyak sel darah putih dan mengalami peningkatan kekebalan tubuh. Namun, di tahun 2007 empat dari10 orang anak tersebut didiagnosis menderita penyakit kanker darah atau leukemia.

Ternyata, walaupun peneliti dapat membantu memasukkan sel genetik baru ke dalam tubuh mereka tidak dapat mengontrol sejauh mana sel genetik tersebut berkembang. Sedangkan sel yang terus berkembangbiak tanpa terkontrol merupakan cikal bakal dari kanker. Selain itu faktor imunitas tubuh juga menyebabkan penelitian ini tidak kunjung diumumkan ke tengah-tengah publik.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Hidup Sehat dengan Manfaat Minum Jus Bayam

Tugas dari sistem imunitas tubuh adalah untuk melawan virus-virus yang masuk ke dalam tubuh. Dan sayangnya, sistem imun tubuh tidak dapat membedakan mana virus yang memang benar-benar merupakan virus penyakit atau virus mana yang sebenarnya merupakan virus yang baik. Pada tahun 1999, seorang pasien kehilangan nyawanya akibat sistem imunitas tubuhnya bereaksi keras terhadap virus jinak yang dimasukkan ke dalam tubuhnya.

Untungnya saat ini peneliti telah menemukan metode yang lebih baik, yaitu dengan mengambil sedikit lapisan sel induk dan memasukkan virus jinak berisi genetik baik ke dalamnya. Baru setelah itu, sel induk tersebut dikembalikan ke dalam sumsum tulang belakang. Dengan demikian, resiko terjadinya komplikasi akibat tubuh yang menolak donor tidak akan terjadi karena sel induk tersebut memang merupakan bagian dari tubuh pasien tersebut. Selain itu, sistem imunitas tubuh pasien juga tidak akan bereaksi karena virus jinak tersebut tidak disuntikkan ke dalam tubuh melainkan sudah berbaur dengan sel induk di luar tubuh.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Waspadai Penyebab Kanker Serviks pada Wanita

Tentu saja masih ada kekhawatiran akan sel tersebut menjadi berserk dan berkembangbiak secara tidak terkendali, namun sejauh pengamatan, pasien yang menerima terapi genetik tetap terlihat sehat dan bahagia. Ya, semoga saja terapi genetik disempurnakan untuk jadi solusi pengobatan thalasemia ya, B’Timers? (dkp)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE