Sadisnya Metode Pengobatan ‘Jadul’ di Masa Perang | Breaktime
Sadisnya Metode Pengobatan ‘Jadul’ di Masa Perang
15.06.2015

Pada masa-masa sulit dan mencekam saat peperangan, tentu dibutuhkan bantuan tenaga medis yang luar biasa. Tak hanya para perawat yang sangat berani, piawai, cekatan dan siap ikut mempertaruhkan nyawa, tetapi juga pengobatan ekstrim yang bisa dibilang tidak manusiawi untuk para prajurit yang terluka parah, bahkan nyaris kehilangan nyawa.

Lantas seperti apa ya, sadisnya pengobatan ekstrim pada masa peperangan? Breaktime sudah merangkumnya untuk B’timers! Get ready and check this out.

Live-saving Amputation

Pada masa perang, terlalu banyak prajurit yang terluka sangat parah dan bisa menyebabkan infeksi yang bahkan mematikan jika tak segera dilakukan operasi. Inilah yang memicu penanganan dengan cara amputasi. Pengobatan kejam ini telah menyelamatkan banyak nyawa.

The Anesthesia Inhaler

Pada zaman dahulu, para ahli bedah menggunakan obat bius dengan menuangkannya di spons, lalu pasien diminta menghirupnya lewat tube. Dengan begini, obat bius akan tercampur dengan udara dan masuk ke hidung saat dihirup. Seperti memaksa seseorang menghirup obat-obatan terlarang, ya?

Closing Chest Wounds

Benjamin Howard, seorang asisten bedah mencetuskan ide menjahit luka tembak di dada dengan jahitan logam, lalu membalutnya dengan kasa dan perban. Cara ini memang jadi cikal bakal jahitan untuk operasi modern. Namun bayangkan pada zaman dahulu seperti apa rasanya luka tembak yang melubangi kulit hingga timbul pendarahan hebat itu harus dijahit dengan logam!

Bedah plastik untuk wajah oleh Gurdon Buck menjadi cikal bakal
Bedah plastik untuk wajah oleh Gurdon Buck menjadi cikal bakal

Facial Reconstruction

Dokter Gurdon Buck, bapak operasi plastik modern sukses melakukan bedah wajah kepada prajurit yang “kehilangan” bagian wajahnya akibat perang, dengan memberikan wajah baru yang terlihat lebih utuh. Wah, operasi plastik zaman dahulu jelas lebih mengerikan saat belum ada teknologi canggih seperti sekarang, ya.

The Ambulance-To-ER system

Para driver pada masa peperangan masih belum terlatih. Ribuan prajurit di medan perang pun terpaksa bertahan dalam kondisi terluka kritis karena tak ada ambulans yang bisa membawa mereka untuk mendapatkan pengobatan. Meski hal ini memelopori sistem ambulance-to-ER, betapa sengsara prajurit perang pada zaman dahulu saat mereka luka parah, nyaris tewas dan hanya bisa terbaring pasrah.

Jika B’timers mengetahui perjuangan antara hidup dan mati prajurit pada zaman dahulu, rasanya beruntung pada masa sekarang sistem pengobatan sudah modern dan memanfaatkan teknologi canggih, bukan?

Share This Article