Perut Kembung Setiap Kali Haid, Normalkah? | Breaktime

KONSULTASI KESEHATAN

dr. Yosefin Eka

dr. Yosefin Eka,S.Ked adalah alumni FK Universitas Brawijaya Malang. Ia pernah mengikuti Pelatihan Emergency Life Support di RS. Hasan Sadikin Bandung, serta Pelatihan dan Workshop Kulit Kelamin & Estetik Medik di FK Univ. Sebelas Maret 2015.

Perut Kembung Setiap Kali Haid, Normalkah?
15.11.2015
“Ketika menstrulasi (haid), saya sering merasakan sakit perut. Tanda-tandanya perut mendadak kembung, nyeri, mual, dan terkadang keringat dingin. Kemungkinan apa yang terjadi, apakah ada gangguan? Dan apakah berbahaya jika saya mengkonsumsi obat nyeri haid (ibuprofen) setiap Menstrulasi hari pertama? Mohon sarannya. Terimakasih.”
Bresiline Andani (22), Yogyakarta

Keadaan yang Bresille alami disebut dengan Dysmenorrhea Primer. Dysmenorrhea primer merupakan keadaan yang tidak berbahaya, namun dapat mengganggu aktivitas maupun psikologis para wanita.

Dysmenorhoea merupakan keadaan hambatan aliran darah menstruasi yang menyebabkan nyeri pada saat menstruasi. Gejala umum Dysmenorrhea  yaitu lemah, mual muntah, diare, nyeri punggung bawah, saki kepala, berdebar-debar, dan keringat dingin. Dysmenorrhea terjadi karena peranan proses yang sangat kompleks hormon-hormon dan senyawa kimia dalam tubuh, temperatur tubuh, pola tidur, dan sistem syaraf pusat dari tubuh.

Perut Kembung Setiap Kali Haid, Normalkah? | Breaktime
Terkadang nyeri haid juga disertai sakit kepala

Dysmenorrhea ini terbagi ke dalam 2 kategori, yaitu:

Dysmenorrhea primer

Dysmenorrhea primer merupakan kondisi di mana tidak ada kelainan dari organ reproduksi). Dysmenorrhea primer ini umumnya terjadi beberapa tahun pasca menarche (mens pertama kali) dan dialami 50% wanita usia pasca pubertas.

Gejala klinis dari Dysmenorrhea primer antara lain:

Mulai terjadi Dysmenorrhea umumnya terjadi kurang lebih 6 bulan pasca menarche (menstruasi pertama)

-Lamanya Dysmenorrhea berkisar 48-72 jam (atau bisa juga terjadi beberapa jam sebelum atau sesudah terjadinya menstruasi)

-Perut terasa kram

-Nyeri perut bagian bawah yang menetap, yang menjalar hingga ke punggung atau hingga ke paha tengah

 

Dysmenorrhea sekunder

Dysmenorrhea sekunder ini merupakan kondisi di mana ada kelainan anatomis dari organ reproduksi. Dysmenorrhea sekunder ini seringkali terjadi pada wanita berusia kisaran 30-45 tahun.

Gejala-gejala dari Dysmenorrhea sekunder yaitu:

-Awal mengalami Dysmenorrhea pada usia 20-30an (selama sebelum usia tersebut relatif mngalami menstruasi tanpa nyeri)

-Perdarahan yang tidak teratur atau aliran darah menstruasi yang sangat banyak

-Tanpa respon dengan pemberian obat anti nyeri golongan non steroid (NSAIDS) seperti golongan  Ibuprofen.

 

Terjadinya Dysmenorrhea primer dipengaruhi beberapa faktor resiko, yaitu:

  • Menarche usia muda (<12 tahun)
  • Merokok
  • Riwayat keluarga positif (pernah mengalami hal yang sama)
  • Nullipara (belum pernah melahirkan)
  • Kegemukan/ obesitas

Penanganan Dysmenorrhea sendiri dikategorikan menjadi dua, terapi dengan obat dan non-obat. Terapi Dysmenorrhea dengan non-obat yaitu dengan konsumsi makanan kaya serat dan rendah lemak dan penggunaan beberapa suplemen-suplemen makanan seperti minyak ikan, vitamin E, magnesium, vitamin B1, dan vitamin B6. Selain itu, harus dilakukan modifikasi life style seperti pembatasan penggunaan rokok dan alkohol, dan rutin berolahraga dilaporkan dapat mengurangi nyeri menstruasi.

Terapi dengan obat, yaitu dengan penggunaan obat antinyeri golongan non-steorid NSAIDS (Diclofenac, Ibuprofen,Ketoprofen, Asam Mefenamat, Naproxen), obat-obat golongan ini sangat efektif mengatasi Dysmenorrhea. Ibuprofen relatif aman dikonsumsi saat Anda mengalami Dysmenorrhea dengan catatan tidak ada riwayat alergi dari Ibuprofen, dan keadaan fungsi ginjal baik. Adapun efek samping yang umum dari Ibuprofen adalah nyeri kepala, nyeri lambung (maag), nyeri ulu hati, susah BAB/ konstipasi, mual, muntah, ruam kulit, telinga berdenging, dan gagal ginjal akut.

Semoga bermanfaat.

Share This Article