Mudah Lelah? Waspada Gejala Chronic Fatigue Syndrome | Breaktime
Mudah Lelah? Waspada Gejala Chronic Fatigue Syndrome
30.04.2015

Setiap orang pasti pernah merasa lelah setelah melakukan suatu kegiatan. Rasa lelah memang wajar dialami siapa saja, dan itu sekaligus menjadi pertanda bahwa tubuh perlu beristirahat. Tetapi bagaimana jika B’timers terus-menerus merasa lelah, bahkan saat sedang tidak beraktivitas?

Mungkin saja Anda mengalami gejala chronic fatigue syndrome atau sindrom kelelahan kronis. Gangguan ini cukup kompleks dan sulit dijabarkan dengan ilmu medis. Rasa lelah bisa jadi semakin parah saat Anda melakukan kegiatan fisik misalnya berolahraga, atau kegiatan yang memerlukan ketahanan mental dan pikiran seperti menyelesaikan pekerjaan kantor. Rasa lelah juga tak kunjung hilang setelah tidur atau beristirahat.

Ada berbagai macam penyebab sindrom ini, yakni infeksi virus seperti Epstein-Barr, human herpes virus, dan virus mouse leukemia yang ditandai dengan masalah pada sistem kekebalan tubuh, ketidakseimbangan hormone, dan kesulitan mengatasi stress.

Selain itu, gejala-gejala lain dari sindrom kelelahan kronis adalah tubuh merasa letih dalam waktu yang lama, ingatan atau konsentrasi berkurang, sakit tenggorokan, membesarnya kelenjar getah bening di leher atau ketiak, nyeri otot tanpa sebab, dan rasa sakit yang berpindah-pindah dari satu sendi ke sendi lain tanpa terjadi bengkak atau kulit memerah. Sakit kepala yang belum pernah dialami sebelumnya dan insomnia juga menjadi pertanda bahwa Anda mengalami chronic fatigue syndrome. 

Chronic fatigue syndrome bikin Anda lesu dan tak bersemangat
Chronic fatigue syndrome bikin Anda lesu dan tak bersemangat

Meski paling sering terjadi pada orang berusia antara 40-50 tahun, tetap hati-hati ya, B’timers! Sebab, sindrom ini sebenarnya tak mengenal usia, jadi bisa dialami oleh siapapun. Sementara itu, gender yang paling banyak mengalami sindrom ini adalah wanita jika dibandingkan dengan pria.

Jika sudah terkena sindrom kelelahan kronis, Anda mungkin akan mengalami komplikasi lain seperti depresi, menjauhkan diri dari kehidupan sosial, membatasi gaya hidup, dan semakin sering tidak masuk kerja.

Meski demikian, ada cara-cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegahnya, seperti mengatasi stress, memperbaiki kebiasaan tidur, serta mengatur pola dan gaya hidup dengan baik. Jika dirasa sudah sangat mengganggu, sebaiknya B’timers lakukan konsultasi dengan dokter, ya!

Share This Article