ASI Masih Keluar Saat Anak Berusia 7 Tahun? | Breaktime

KONSULTASI KESEHATAN

dr. Yosefin Eka

dr. Yosefin Eka,S.Ked adalah alumni FK Universitas Brawijaya Malang. Ia pernah mengikuti Pelatihan Emergency Life Support di RS. Hasan Sadikin Bandung, serta Pelatihan dan Workshop Kulit Kelamin & Estetik Medik di FK Univ. Sebelas Maret 2015.

Mengapa ASI Masih Keluar Saat Anak Berusia 7 Tahun?
07.03.2016
“Dokter, saya sudah tidak memberi ASI sejak anak saya berusia 2 tahun. Kini anak saya usianya sudah 7 tahun. Tapi, sampai sekarang ASI saya masih keluar. Apakah berbahaya, dok? Terima kasih sebelumnya.” Meilia Wuryantati, Perempuan, Kebumen

Terima kasih untuk pertanyaannya, Ibu Meilia. Keadaan yang Ibu alami ini tidak normal atau tidak seharusnya. Keadaan ASI (Air Susu Ibu) yang keluar terus menerus dalam dunia medis disebut Galactorrhea. Galactorrhea ini sendiri sebenarnya bukan merupakan penyakit.

Namun, merupakan suatu gangguan yang merupakan tanda-tanda atau indikasi adanya masalah kesehatan yang lainnya. Galactorrhea dapat terjadi pada wanita, bahkan pria maupun bayi sekalipun. Penyebab dari galactorrhea ini antara lain :

  1. Gangguan hormonal dan kelainan kelenjar. Hormon yang menyebabkan tetap diproduksinya ASI adalah produksi hormon prolaktin yang berlebih. Hormon prolaktin ini dihasilkan oleh kelenjar di otak yang disebut kelenjar Pituitary.
  2. Efek samping dari penggunaan beberapa obat-obatan, seperti obat anti depresan, anti psikosa, pil-pil KB dan dapat juga obat-obatan darah tinggi
  3. Penggunaan obat-obatan herbal yang berlebihan
  4. Cedera syaraf karena efek samping dari operasi
  5. Manipulasi yang berlebih pada payudara terkait aktivitas seksual
  6. Idiopatik atau tidak diketahui penyebabnya (dalam kasus ini, kadar hormon prolaktin bisa jadi tetap normal atau tidak berlebih)
  7. Galactorrhea pada bayi disebabkan oleh kelebihan hormon estrogen dari ibu yang masuk ke plasenta dari bayi

Jadi, meskipun Galactorrhea bukanlah penyakit, namun merupakan gangguan dari hormonal, saya sarankan sebaiknya Anda tetap memeriksakan kelainan ini ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan (Dokter Obstetri Gynecology atau Obgyn), agar dapat dideteksi penyebabnya dan diberi penanganan lebih lanjut. Terima kasih.

Share This Article