Kontroversi Pengobatan Multiple Sclerosis | Breaktime
Kontroversi Pengobatan Multiple Sclerosis
11.11.2017

Multiple sclerosis atau sklerosis ganda merupakan penyakit progresif akibat sistem kekebalan tubuh yang secara keliru menyerang myelin alias selaput pelindung saraf dalam otak dan tulang belakang sehingga menimbulkan peradangan. Sklerosis sendiri merupakan jaringan parut yang terbentuk akibat pengerasan saraf-saraf yang rusak. Penyakit kronis pada sistem saraf pusat tersebut dipercaya tidak dapat sembuh sepenuhnya dan menyisakan gangguan neurologis yang kian parah serta pengobatan multiple sclerosis yang bisa dikatakan hampir mustahil. Pada kondisi kronis, MS bisa menyebabkan gejala kesemutan, gangguan penglihatan, hingga kelumpuhan.

Kerusakan myelin tersebut tidak bisa dipandang sepele karena akan menghalangi sinyal-sinyal yang dipancarkan oleh syaraf sehingga mengganggu komunikasi antara otak dengan bagian tubuh yang lainnya. Multiple sclerosis kambuhan merupakan jenis yang paling sering terjadi, yakni pada 80% pengidap MS. Para penderita MS kambuhan biasanya memiliki masa fluktuasi, yakni masa serangan parah dan saat-saat lain ketika gejala berkurang. Masa remis atau meredanya gejala sklerosis kambuhan tersebut seringkali berakhir secara tiba-tiba karena dipicu oleh penyakit tertentu atau akibat stres.

Gejala dan frekuensi kambuhan pada multiple sclerosis biasanya akan di kurangi dengan menggunakan terapi steroid. Pengobatan multiple sclerosis menggunakan terapi steroid biasanya akan diberikan secara intravena atau melalui pembuluh darah selama 3 hingga 5 hari. Dalam satu titik, pasien MS akan diminta untuk mengkonsumsi steroid oral selama 1 hingga 2 minggu. Steroid dosis tinggi biasanya digunakan untuk mempercepat pemulihan setelah munculnya gejala MS kambuhan. 

Kontroversi Pengobatan Multiple Sclerosis | Breaktime
Pengobatan steroid dikenal dapat menghambat gejala multiple sclerosis

Steroid yang disebut juga dengan kortikosteroid tersebut tidak memberikan efek samping dan cenderung dapat ditoleransi apabila digunakan dalam jangka pendek dan hanya diberikan sekali atau 2 kali dalam setahun. Ngerinya, penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan komplikasi seperti muncul memar, hingga perubahan kulit dan tulang. Dalam jangka pendek, pemberian kortikosteroid rupanya dapat menimbulkan beberapa efek samping yang tergolong “ringan”, seperti gangguan tidur, gangguan perut, gangguan suasana hati, infeksi, pertambahan berat badan, hingga peningkatan kadar gula darah.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Masalah Jerawat Di Bokong, Atasi Dengan Ini!

Pemberian kortikosteroid seringkali menyebabkan susah tidur, tidur gelisah akibat mimpi buruk, hingga merasa mudah mengantuk dan lelah di siang hari. Untuk mencegahnya, para pasien disarankan untuk minum seluruh dosis di pagi hari maupun meminta resep obat penenang menjelang tidur. Gangguan perut biasanya muncul berupa lidah yang terasa seperti logam yang bisa dihilangkan dengan makan permen. Gangguan perut lainnya ialah timbulnya sensasi mual dan sakit perut hingga keinginan muntah. Ketidaknyamanan tersebut dapat dikurangi dengan minum obat antasida untuk mengurangi gejala mirip maag tersebut.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Hidup Sehat dengan Manfaat Minum Jus Bayam

Penderita MS kambuhan biasanya akan diresepkan obat penenang untuk menangani gangguan suasana hati yang biasa muncul akibat pemberian steroid, yang bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan, depresi, hingga bipolar. Penderita MS kambuhan juga rentan mengalami kenaikan berat badan akibat pemberian terapi steroid karena tak hanya mual, beebrapa pasien cenderung mengalami efek samping bertolak belakang yakni kenaikan nafsu makan. Karena itulah, para pasien biasanya disarankan untuk melakukan diet rendah garam.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Waspadai Penyebab Kanker Serviks pada Wanita

Terapi steroid yang diberikan juga berfungsi menekan sistem kekebalan tubuh sehingga berisiko menimbulkan infeksi. Efek samping lainnya yang sulit dihindari ialah peningkatan gula darah sehingga kadar glukosa darah harus selalu diperiksa selama menjalani terapi steroid. Selain pengobatan multiple sclerosis dengan menggunakan terapi steroid, baru-baru ini dilakukan penelitian bahwa transplantasi stem cell haemopoietic dapat memperbaiki sistem kekebalan tubuh pada penderita MS dan mengurangi risiko kecacatan jangka panjang. Sayangnya, penelitian tersebut belum dapat diwujudkan dalam bentuk pengobatan medis hingga saat ini karena banyaknya risiko transplantasi yang terjadi secara berbeda pada tiap individu penderita. (dee)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE