Konsumsi Daging Anjing: Sehat atau Tidak, Sih? | Breaktime
Konsumsi Daging Anjing: Sehat atau Tidak, Sih?
01.10.2015

Di negara-negara Asia, seperti Korea, Vietnam, dan Tiongkok, daging anjing merupakan salah satu sumber protein yang cukup di gemari. Di Indonesia sendiri, daging anjing juga menjadi santapan favorit beberapa masyarakat Medan, Minahasa dan Manado. Daging anjing biasanya disebut dengan istilah RW yang merupakan singkatan dari rintek wuuk (ungkapan Manado yang berarti anjing). Beberapa juga menyebut daging anjing dengan kode B1.

Baca Juga : 3 MENU DIET TASTY UNTUK KESEHATAN GINJAL ANDA

Di Jawa, kuliner anjing biasanya diberi nama samara, seperti sate jamu untuk sate anjing dan sengsu untuk tongseng anjing. Dan baru-baru ini, pemerintah DKI Jakarta melegalkan daging anjing untuk konsumsi. Tapi, sehatkah mengonsumsi daging anjing bagi kesehatan? Ini jawabannya!

Sengsu, Tongseng Asu yang banyak dijual di Jogja dan Solo
Sengsu, Tongseng Asu yang banyak dijual di Jogja dan Solo

Rabies

Salah satu kasus yang banyak terjadi ketika konsumsi daging anjing adalah penularan rabies dari anjing ke manusia. Penularan rabies biasanya berlangsung selama proses  penyembelihan. Di Filipina, yang mana anjing dijadikan sebagai konsumsi sehari-hari, sedikitnya 300 orang meninggal karena rabies tiap tahunnya. Selain di itu, 30% penyebab kematian akibat rabies juga terjadi ketika proses penjagalan.

Penyakit menular

Di Indonesia, anjing tidak termasuk hewan ternak sehingga proses penyembelihan dan kualitas daging anjing lepas dari pengawasan Dinas Kesehatan. Padahal, dalam daging anjing terdapat berbagai penyakit, seperi E.Coli, salmonella, anthrax, brucellosis, hepatitis, leptospirosis, hingga bakteri kolera.

Salah satu yang terparah adalah trichinellosis yang dapat dengan mudah menular pada manusia yang mengonsuimsi daging anjing. WHO juga telah memperingatkan bahwa mengonsumsi daging anjing dapat meningkatkan infeksi bakteri dan penyakit berbahaya hingga 20 kali lipat.

Penggunaan antibiotik tanpa dosis jelas akan menyebabkan resistensi antibiotik
Penggunaan antibiotik tanpa dosis jelas akan menyebabkan resistensi antibiotik

Resistensi Antibiotik

Di peternakan anjing, biasanya anjing sakit akan diberi antibiotik dan vaksin tanpa dosis yang jelas. Bahkan, penggunaannya terkesan sembarangan dan berlebihan sehingga pertumbuhan bakteri justru semakin kuat dan sulit dibunuh.

Ketika daging anjing yang mengandung bakteri resistensi antibiotik dikonsumsi oleh manusia, penularan akan menjadi semakin mudah. Sementara itu, proses penyembuhan penyakit rbies akan semakin sulit dilakukan sehingga tingkat kematian meningkat. Peneliti dari Antimicrobial Resistence menemukan bahwa infeksi yang resisten terhadap antibiotik dapat meningkatkan jumlah kematian hingga 10 juta orang pertahun.

Well, meski banyak desas-desus yang mengatakan bahwa daging anjing lezat, pertimbangkan dari risiko kesehatan, ya.  Berpikirlah berkali-kali sebelum mengonsumsinya.

Share This Article