Gadget: Semakin Canggih Semakin Tak Sehat | BREAKTIME
Gadget: Semakin Canggih Semakin Tak Sehat
15.03.2015

“The most important thing about a technology is how it changes people.” 
-Jaron Lanier-

Dengan adanya berbagai gadget canggih tentunya B’timers semakin dimudahkan untuk melakukan segala sesuatu, baik itu dalam bidang komunikasi, pekerjaan, maupun hiburan. Namun dibalik kecanggihan dan kemudahannya tersebut, ternyata gadget bisa memberikan dampak buruk untuk Anda. 

Tak percaya? Coba simak informasi mengenai dampak penggunaan gadget berlebih yang sudah Breaktime rangkum berikut ini:

Insomnia

Berhadapan langsung dengan layar gadget sepanjang malam tentunya akan mengurangi jam tidur. Selain itu, suara panggilan telepon ataupun pesan singkat di tengah malam tentunya juga akan mengurangi kualitas tidur Anda. 

Tak hanya itu saja, terlalu lama berinteraksi dengan gadget akan meningkatkan kadar hormon melatonin yang terdapat di tubuh. Hormon melatonin sendiri akan membuat siklus tidur menjadi tidak teratur. 

Computer Vision Syndrome

Jika akhir-akhir ini B’timers merasa kurang nyaman di bagian mata atau bahkan mengalami iritasi, bisa jadi hal tersebut merupakan computer vision syndrome. Gangguan kesehatan ini ditandai dengan beberapa gejala, antara lain penglihatan kabur, pusing, mata terasa lelah dan kering. 

Mark Rosenfield, O.D., Ph.D, seorang profesor optometry di University of New York College, Manhattan, menyarankan kepada pengguna smartphone dan laptop untuk menjauhkan wajah dari layar setidaknya dengan jarak 16 inchi demi menghindari computer vision syndrome. 

Obesitas

Bukan berita baru lagi sebenarnya kalau gadget atau alat-alat canggih lainnya bisa menyebabkan obesitas. Hal ini karena B’timers jadi enggan bergerak lantaran semua hal bisa diselesaikan hanya dengan satu sentuhan saja. Lebih parah lagi kalau Anda memiliki kebiasaan bermain gadget sambil mengonsumsi berbagai makanan tinggi kalori, gula, dan lemak seperti cake, cookies, potato chips, atau soda.

Berpotensi memiliki masalah mental

Douglas A. Gentile, seorang profesor psikologi di Iowa State University, melakukan penelitian terhadap hubungan video games dengan tingkat depresi pada remaja. Hasilnya, remaja yang memiliki gangguan atau masalah mental banyak menjadikan video game sebagai obat penenang. 

Dalam waktu pendek, hal ini memang bisa mengatasi masalah mental yang mereka alami. Namun dalam jangka panjang, mereka jadi ketagihan hingga akhirnya sering menyendiri dan mulai menampakkan tanda-tanda depresi. 

Memang menyenangkan rasanya selalu berdekatan dengan teknologi canggih yang membuat segala aktivitas jadi lebih praktis. Namun ingat, ada terlalu banyak hal berharga untuk dilewatkan begitu saja yang sejatinya jauh lebih sehat untuk tubuh dan mental Anda.

Share This Article