Donor ASI, Amankah untuk Bayi? | Breaktime
Donor ASI, Amankah untuk Bayi?
19.08.2015

Tidak semua wanita bisa menyusui bayinya setelah melahirkan. Untuk sang ibu, tentu hal ini sangat menyedihkan karena buah hatinya tak bisa mendapatkan ASI eksklusif. Tapi, belakangan ini marak tren donor ASI yang dilakukan oleh para ibu dengan produksi ASI berlebih. Hal ini tentu sangat membantu ibu-ibu yang membutuhkan ASI untuk bayinya. Tapi pertanyaannya, amankah hal ini untuk kesehatan si Kecil?

Tentunya, pendonor ASI bukanlah orang sembarangan. Mereka harus memenuhi kriteria khusus seperti berikut ini:

  • Memiliki bayi berusia kurang dari 6 bulan.
  • Dinyatakan sehat dan tidak mempunyai kontra indikasi menyusui.
  • Produksi ASI memenuhi kebutuhan bayinya dan memutuskan untuk mendonasikan ASI karena produksi yang berlebih.
  • Tidak menerima transfusi darah atau transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan terakhir.
  • Tidak mengonsumsi obat-obatan yang dapat mempengaruhi bayi, seperti insulin dan hormon tiroid. Penggunaan obat/suplemen herbal harus dinilai kompatibilitasnya terhadap ASI.
  • Tidak ada riwayat menderita penyakit menular, seperti hepatitis, HIV, dan lainnya.
  • Tidak memiliki pasangan seksual yang berisiko menyebarkan penyakit menular, seperti HIV, hepatitis B/C (termasuk penderita hemofilia yang rutin menerima komponen darah), menggunakan obat ilegal, perokok, atau minum beralkohol.

Setelah memenuhi kriteria tersebut, calon pendonor masih akan melangkukan serangkaian tes untuk mengetahui kondisi fisiknya, antara lain:

  • Harus menjalani skrining meliputi tes HIV, human T-lymphotropic virus (HTLV), sifilis, hepatitis B, hepatitis C, dan CMV (bila ASI akan diberikan pada bayi prematur).
  • Apabila ada keraguan terhadap status pendonor, tes dapat dilakukan setiap 3 bulan.
  • Setelah melalui tahapan penapisan, harus dilakukan test ASI untuk memastikan terbebas dari virus dan bakteri dengan cara pasteurisasi atau pemanasan.

Pasteurisasi pretoria dan Flash heating

Flash heating dapat dilakukan dengan pemanas susu
Flash heating dapat dilakukan dengan pemanas susu

Kedua teknik pemanasan ini dilakukan untuk mencegah dan mengurangi penyakit yang bisa saja ditularkan melalui ASI yang diberikan. Caranya adalah dengan memanaskan ASI dalam wadah kaca dan mendidihkannya dalam panci sampai muncul gelembung. Setelah itu, ASI bisa didinginkan dan diberikan pada bayi.

Secara umum, ASI dari pendonor aman diberikan kepada bayi selama prosedur kesehatan dan kebersihan dilaksanakan dengan benar. Pendonor tidak hanya harus melalui tahap penapisan, tapi juga harus menjamin mutu dan keamanan ASI meliputi kebersihan, cara penyimpanan, pemberian, dan pemerahan ASI. Untuk itu, Anda harus tahu benar darimana ASI tersebut berasal. Sudahkah sesuai prosedur? Serta pastikan ASI yang diberikan kepada bayi tidak memiliki risiko menularkan penyakit dan mempengaruhi kesehatan bayi. Cara paling aman adalah dengan mendatangi Unit Donor ASI yang menjamin keamanan dan kesehatan ASI dengan optimal.

Share This Article