Benarkah Lansia Sangat Rentan Alami Depresi?
Benarkah Lansia Sangat Rentan Alami Depresi?
19.01.2016
“To care for those who once cared for us is one of the highest honors.”—Tia Walker

Apakah B’timers memiliki famili yang sudah memasuki usia senja di rumah? Hari makin hari, barangkali Anda tak lagi melihat senyum, semangat, dan keceriaan mereka seperti dulu. Bahkan, B’timers justru sering mendapati mereka terlihat sedih entah karena apa.

Dalam dunia psikologis, depresi memang kerap menyapa kaum lansia. Suzette Santos, RN seorang perawat mental pernah ditugaskan untuk merawat Grace (bukan namanya) yang berusia 89 tahun di Nassau County di Long Island selama setahun. Selama itu pula, Grace telah berjuang untuk menghadapi depresi yang dialaminya pasca ditinggal pergi suaminya selamanya.

Selama mengalami depresi tersebut, ia mengalami penurunan berat badan sebanyak 9 kg. Selama masa itu pula, ia kehilangan minat sama sekali untuk memasak atau makan. Bahkan, Grace juga tak bisa tidur dengan nyenyak. Sampai-sampai Suzette berpikir bahwa Grace perlu diopname.

Kurangi depresi pada lansia dengan memberikan perhatian penuh Anda
Kurangi depresi pada lansia dengan memberikan perhatian penuh Anda

Dari hasil kebersamaannya dengan Grace tersebut, Suzette menyimpulkan bahwa saat bersama dengan keluarga yang berusia senja, lakukanlah percakapan hangat dengan mereka. B’timers tak hanya perlu bertanya tentang kondisi kesehatan fisiknya, tapi juga kesehatan emosionalnya. Terlebih bila keluarga lansia Anda tersebut baru saja kehilangan orang yang paling mereka sayangi.

Sebab, rasa depresi ini muncul ketika kalangan lansia tidak memiliki ruang untuk berbagi apa yang mereka rasakan selama ini. Meski begitu, mengenali apakah anggota keluarga Anda mengalami depresi ataupun tidak memang bisa jadi perkara yang cukup tricky. Namun, secara umum Anda bisa mengenali gejalanya dengan tanda-tanda sebagai berikut:

  • Merasa tak punya harapan dan pesimis
  • Merasa bersalah, tidak berarti, atau tak bisa berbuat apa-apa
  • Mudah tersinggung dan gelisah
  • Kehilangan minat dalam aktivitas ataupun hobi yang digemari
  • Lelah dan energi menurun
  • Susah konsentrasi, mengingat hal rinci, dan membuat keputusan
  • Insomnia, lelah saat bangun pagi, atau tidur berlebihan
  • Makan berlebihan atau kurang nafsu makan
  • Sering terpikir untuk bunuh diri
  • Sering mengalami sakit kepala, pusing, kram, masalah pencernaan

Nah, cobalah lebih dekat dengan orang tua atau siapa saja kerabat Anda yang saat ini sedang memasuki usia senja. Bila kebetulan B’timers tinggal terpisah dengan mereka, luangkan waktu sesering mungkin untuk datang berkunjung dan bertanya seputar kesehatan dan perasaan mereka.

Bahkan, Anda juga bisa mengagendakan waktu rutin untuk mengajak mereka jalan-jalan atau makan di restoran. Dengan begitu, mereka tak akan sepenuhnya merasa kesepian atau ditinggalkan oleh Anda yang dulu pernah berada dalam asuhannya. (vsc)

Share This Article