Sakit Maag Dilarang Puasa, Mitos atau Fakta? | Breaktime
Sakit Maag Dilarang Puasa, Mitos atau Fakta?
11.06.2015

FUN FACT QUESTION

Jawaban Kamu Benar



Kurang beberapa hari lagi, bulan Ramadhan akan segera tiba. Namun, bila B’timers punya penyakit maag, tentunya ada kekhawatiran tersendiri tentang kesehatan tubuh saat puasa nanti. Rasa takut bahwa penyakit maag akan bertambah parah menjadi momok menakutkan yang tak sanggup dibayangkan. But, wait for a second, is that really true?

Puasa Ramadhan tergolong partial fasting, yaitu puasa yang hanya berlangsung selama kurang lebih 13 jam. Dalam bidang ilmiah, puasa jenis ini juga dikenal dengan istilah prolonged fasting alias puasa yang dilakukan secara terus-menerus selama beberapa hari.

Menurut Prof. Dr. Made Astawan, dosen di Departemen Teknologi dan Pangan IPB, penyakit maag dibagi ke dalam dua jenis, yakni kelainan organik dan kelainan fungsional. Pada penderita maag dengan kelainan organik dan tidak mengonsumsi obat, puasa cenderung dapat memperparah sakit maag.

Oleh karena itu, penderita maag dengan kelainan organik umumnya dianjurkan untuk mengonsumsi obat antiasam dari dokter yang mampu menekan produksi asam lambung hingga 12 sampai 24 jam.

mengompres perut dengan air hangat
Redakan sakit maag dengan mengompres perut dengan air hangat

Sementara itu, bagi penderita maag dengan kelainan fungsional, puasa justru membantu proses penyembuhan dan memperbaiki kerja lambung. Hal ini dikarenakan pola makan menjadi lebih teratur saat berpuasa dan konsumsi makanan yang mengandung gas pun jauh lebih berkurang.

Lalu, bagaimana dengan kekhawatiran lambung kosong yang bisa bikin perut perih? Meskipun lambung kosong selama belasan jam, sebenarnya tubuh B’timers tetap memiliki cadangan energi berupa lemak dan glikogen yang tersimpan di bawah kulit. Bahan baku inilah yang nantinya akan tetap dikelola oleh sistem pencernaan dan bikin Anda tetap bugar meskipun tengah berpuasa.

Nah, agar tubuh B’timers tidak terlalu loyo dan bebas sakit maag, Anda bisa mencontoh gaya sahur dan berbuka Nabi Muhammad. Beliau biasa mengakhirkan waktu sahur hingga beberapa menit sebelum waktu imsak serta menyegerakan berbuka dengan yang manis seperti kurma begitu masuk waktu maghrib.

Selain itu, hindari pula makanan dan minuman yang dapat merangsang pengeluaran asam lambung seperti kopi, sari buah jeruk, dan susu. Kurangi juga makanan yang sulit dicerna dan dapat memperlambat pengosongan lambung seperti makanan berlemak dan keju.

Kini, B’timers tak perlu khawatir lagi dengan kesehatan tubuh menjelang bulan puasa Ramadhan nanti. Selamat berpuasa, ya!



artikel kompilasi
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
PAPUA
TRAVEL GUIDE