Mempelajari Industri Mode Bersama Musa Widiatmodjo | Breaktime

KONSULTASI FASHION

ISFA

Creative & Academic Development Director

Mempelajari Industri Mode Bersama Musa Widiatmodjo
by ISFA
14.09.2015

Seiring perkembangan zaman, dunia mode di tanah air pun semakin berkembang pesat mengikuti eranya. Namun disadari atau tidak, sumber daya manusia di industri mode Indonesia sangatlah kurang terpenuhi. Hal itulah yang memunculkan niat Imelda Marlina dan Floery Dwi Mustika untuk membangun sebuah sekolah mode yang diberi nama Imelda Sparks Fashion Academy (ISFA). 

Sejak berdiri tahun 2014 lalu, sekolah ini mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Bahkan, desainer mode senior Musa Widiatmodjo pun kemudian bergabung menjadi dewan pengarah dan konsultan sekaligus tenaga pengajar di ISFA. Namun, di sini Musa lebih menitikberatkan ke arah bisnis mode dan pemasaran industri mode. 

"Kreatif itu tidak perlu diajarkan karena biasanya sudah ada di dalam diri masing-masing. Tetapi, kami ingin para siswa untuk berpikir apa selanjutnya yang diambil setelah selesai dari ISFA," kata Musa dalam Workshop dan Talk Shows dengan tema ‘Sparks Essentia’ di Hotel 101, Jakarta Selatan.

Musa Widiatmodjo dan Floery Dwi Mustika beserta para kru ISFA
Musa Widiatmodjo dan Floery Dwi Mustika beserta para kru ISFA

Desainer kenamaan sekaligus pemilik label M by Musa ini menegaskan bahwa iklim mode dan industri mode Indonesia berbeda jauh dengan negara lain. Hal itu dinilainya baik dari kebudayaan maupun adat istiadat yang juga mempunyai pengaruh terhadap mode itu sendiri. 

Ditambah lagi, negara-negara Barat memiliki industri mode yang sudah cukup maju. Dengan begitu, sekolah mode Indonesia tidak bisa mengadopsi kurikulum dari luar negeri bila ingin menghasilkan SDM yang baik.

"Saat bu Imelda (pemilik sekaligus pendiri ISFA) bilang ingin membuat kurikulum sendiri saya langsung mau bergabung. Saya mau para siswa mengetahui realita dari industri mode Indonesia. Karena saat ini banyak pelaku mode di Indonesia tidak mengetahui apa itu mode. Mode adalah commercial art, artinya harus diperdagangkan. Jadi, transaksi penting jangan hanya fashion show ke mana-mana tapi transaksinya nol," papar Musa.

Talkshow bersama Musa Widiatmodjo
Talkshow bersama Musa Widiatmodjo

Sebagai salah satu desainer senior, Musa menegaskan jika berkecimpung di industri mode Indonesia tidaklah mudah. Perlu mental, komitmen dan keseriusan, sehingga tiga hal tersebut sangat ditekankan kepada para siswa ISFA.

Terdapat dua pilihan program dalam ISFA, yakni program eksplorasi dan program akademis. Program eksplorasi ditujukan bagi siswa sejak usia dini hingga dewasa untuk mengenal dunia mode lebih dekat. Sedangkan, program akademis ditujukan bagi siswa yang memiliki potensi dan keinginan untuk berkecimpung dalam industri mode.

"Setelah melalui kelas dasar, mereka dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya. Jadi, bila siswa ingin serius mengambil karir mode dapat mengambil pendidikan akademis melalui pilihan jurusan ready to wear (siap pakai) atau made to measure (sesuai pesanan)," ujar Executive Director ISFA, Floery Dwi Mustika ditempat yang sama.

Seiring dengan perkembangannya, ISFA ke depannya akan menambah program untuk 6 bulan, 3 tahun, 6 tahun, dan sebagainya. Selain itu, ISFA juga ingin menekankan kepada siswa bila menyukai mode tidak harus menjadi desainer mode. Seperti dikatakan Musa, profesi di industri mode juga memiliki banyak bidang konsentrasi lain.

"Ke depannya kita juga ingin mengembangkan jurusan dengan pilihan seperti fashion stylist, fashion PR (Public Relation), jurnalistik, buyer, dan sebagainya," terang Musa.

Share This Article