Kiat Sukses a la Musa Widiatmodjo dalam ISFA Sparkling Essentia | Breaktime

KONSULTASI FASHION

ISFA

Creative & Academic Development Director

Kiat Sukses a la Musa Widiatmodjo dalam ISFA Sparkling Essentia
by ISFA
17.09.2015

Menjadi seorang perancang busana atau desainer tidak sekedar hanya harus bisa merancang dan membuat busana saja, namun banyak hal lain yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah bagaimana membangun bisnis dan jaringan sehingga apa yang sudah dikerjakan bisa membuahkan hasil.

Terkait dengan hal itu, desainer mode senior, Musa Widiatmodjo membahasnya secara gamblang dalam ISFA Sparkling Essentia. Ia menjelaskan apa saja yang harus diperhatikan oleh seorang desainer, khususnya desainer pemula.

Musa mengatakan, dirinya kerap merasa kecewa dengan pola pikir beberapa desainer pemula yang terkesan ‘asal-asalan’ dalam menekuni bisnis mode. Saat ini, banyak desainer pemula yang hanya fokus kepada kreativitas atau desainnya saja, namun tidak serius membangun bisnis mode.

"Yang banyak terjadi belakangan mereka sibuk fashion show kemana-mana, tapi apakah transaksinya besar?," ujar Musa. Tidak bisa dipungkiri, kekuatan media massa yang mempublikasikan hasil karya para desainer baru mempengaruhi pola pikir mereka yang seolah-olah sudah menjadi terkenal karena otomatis terekspos. Mereka berpikir dengan diekspose media massa, hasil karyanya akan laku begitu saja, sehingga fashion show dianggap menjadi satu-satunya cara untuk unjuk gigi.

"Padahal tidak seperti itu. Untuk menjadikan itu sebuah uang butuh proses lagi dan harus ada komitmen," terang pemilik label M by Musa ini.

Baca Juga : SEJAUH MANA NAMA PENGARUHI KEHIDUPAN DAN KESUKSESAN ANDA?

Selain itu, tidak sedikit pula desainer pemula yang merasa sudah puas dan cukup dengan pencapaiannya sehingga tidak tertarik untuk mendalami ilmu melalui sekolah mode agar bisa belajar mengenai bisnis mode. Mereka cenderung malas bertemu dengan angka.

"Pola pikir seperti itulah yang harus dirubah. Untungnya sudah dua tahun ini beberapa sekolah mode memasukkan mata kuliah bisnis mode dalam kurikulumnya," papar pemilik merek Musa Atelier ini.

Musa Widiatmodjo dan Floery Dwi Mustika beserta para kru ISFA
Musa Widiatmodjo dan Floery Dwi Mustika beserta para kru ISFA

Dua puluh tujuh tahun berkecimpung di industri mode Indonesia membuat Musa Widiatmodjo cukup memahami dengan baik iklim mode di Indonesia. Menurutnya, untuk bisa bertahan di dunia mode Indonesia tidaklah mudah, butuh perjuangan agar bisa konsisten. Selain itu, dunia mode harus menarik berbagai sektor bila ingin berkembang. Namun, yang terjadi setiap sektor di Indonesia sibuk dengan urusan masing-masing.

"Sektor pendidikan, sektor kreatif seperti film dan sebagainya harusnya bisa berintegrasi untuk memajukan industri mode. Tapi, yang terjadi justru semua sibuk dengan urusan masing-masing. Belum lagi kita (pelaku mode) harus bersaing dengan gempuran produk dari Tiongkok dan produk dari luar negeri lainnya yang mendominasi mal. Jadi, ya kita harus cari celah agar bisa terus maju," paparnya lagi.

Dia pun mencontohkan keberhasilan Korea Selatan dalam industri modenya yang disebabkan oleh integrasi dari semua sektor. Menurutnya, Korea membangun dunia modenya dari film hingga musik.

"Banyak cerita drama Korea yang mengangkat bisnis mode dalam tema ceritanya. Belum lagi penampilan penyanyi Korea yang gaya-gayanya berbeda dan fashionable," pungkasnya.

Share This Article