Insipirasi Tanah Buton Pada Koleksi Sao | Breaktime
Insipirasi Tanah Buton Pada Koleksi Sao
03.04.2016

Sao adalah salah satu label busana di Indonesia yang cukup menjanjikan. Sao memiliki konsep desain kasual, unik, dan edgy. Kombinasi motif tenun dengan kain modern merupakan fondasi bagi Sao dalam setiap desainnya. Terinspirasi dari berbagai lingkungan sekitar, street fashion, pop culture, dan multikultural Indonesia, Sao menghasilkan beragam busana harian untuk wanita dengan kesan kultural, modern, dan tetap mengedepankan detail dalam setiap koleksinya.

Kecintaan Sao akan budaya dan kain tenun traditional menginspirasi Sao untuk memperkenalkan kain khas tenun Buton dari Sulawesi Tenggara pada pekan mode Indonesia Fashion Week 2016 kemarin. Sao exclusive collection spring-summer/2016 mengangkat tema “EVERLASTING SORAWOLIO”.

Everlasting Sorawolio atau tanah buton yang abadi, menggambarkan kesultanan buton di kepulauan Sulawesi Tenggara yang masih menjaga budaya kerajaan buton sampai dengan saat ini. Uniknya walaupun masyarakat buton modern memiliki perbedaan secara geografis dan administrasi pemerintahan, secara kultural mereka tetap satu.

Hal ini terjadi karena masyarakat buton memiliki nilai-nilai budaya yang berfungsi sebagai pengikat dan perekat hubungan sosial antara masyarakat. Salah satu perekat sosial itu adalah kain tenun buton. Tenun buton memiliki beragam motif unik, hasil karya masyarakat buton atas penghayatan terhadap alam. Tenun buton juga digunakan sebagai pembentuk identitas sosial bagi masyarakat buton.

Sesuai dengan filosofi tenun buton, koleksi Sao “Everlasting Sorawolio” merupakan simbol identitas diri anak muda Indonesia yang bangga akan budaya dan tertarik untuk menggunakan produk lokal Indonesia melalui kreativitas dan design yang modern dan fashionable.

Koleksi sao “Everlasting Sorawolio” adalah simple dress, blazer, shirt, serta pants, yang didesain menggabungkan teknik cutting asymmetries, motif stripes khas tenun buton, dan mixed chiffons yang akan menjadikan trend baru casual modern, namun tetap kultural dan nyaman untuk digunakan dalam kegiatan sehari-hari. (ZA/LMG)

By Zulfikar dan Lokita

Share This Article

Tagging: