IFW 2017: Tenoen Etnik 6 Desainer Bersama BEKRAF | Breaktime
IFW 2017: Tenoen Etnik 6 Desainer Bersama BEKRAF
03.02.2017

Indonesia Fashion Week 2017 berkolaborasi dengan pihak sponsor yakni BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) untuk tampilkan deretan karya terbaik enam desainer kondang, dengan mengusung tema Tenoen Etnik. Mereka adalah Ida Royani, Jenahara, Torang Sitorus, Jeny Tjahyawati, Anne Rufaidah, dan Nieta Handayani. Empat di antaranya yakni Ida Royani, Jenahara, Jeny Tjahyawati, dan Torang Sitorus akan berkolaborasi menampilkan kreasi dari Ulos, kain khas adat Batak.

Kali ini, Ida Royani yang telah bergelut selama 15 tahun untuk mempromosikan kain khas NTT, membuat inovasi untuk busana muslim rancangannya. Temanya sendiri dibagi menjadi dua jenis kain Ulos yang berbeda agar tidak monoton, yakni Pinuncaan dan Sadum. Ulos Pinuncaan adalah yang punya harga jual paling tinggi, sebab terbuat dari bahan 5 kain tenun yang sudah disatukan.

Ulos Pinuncaan ini sendiri diolah dengan tema warna monokrom yakni hitam dan putih. Kemudian ada juga koleksi Ulos Sadum, yang ketat aturan pemakaiannya, sampai-sampai di Tapanuli Selatan terdapat golongan tertentu yang dilarang menggunakan Ulos ini. Pemilihan warna ungu, pink tua dan hitam pun tidak hanya disulap untuk tema baju, namun juga menjadi tas dan sepatu. Seluruh koleksi Ulos ini pun bisa dipakai untuk acara formal dan juga informal.

Sementara, Jenahara juga menampilkan koleksi lini Jenahara Black Label yang sama menariknya dengan milik ibundanya, Ida Royani. Jenahara Black Label memberi sentuhan nuansa edgy dan minimalis pada kain khas Batak, dengan koleksi yang dinamai Hinauli yang dalam bahasa Batak berarti keindahan. Dengan dominasi warna hitam dan merah maroon, Jenahara merancang potongan yang simple dan asimetris, dengan sejumlah looks yang memakai teknik drapping untuk fabric treatment-nya.

Jeny Tjahyawati juga memakai kain Ulos khas Sumatra Utara untuk rancangannya dengan tema Rarigami Reconstruction. Jeny menggabungkan Origami dan Ulos Radigub yang menjadi inspirasinya, sehingga menciptakan style feminin serta elegan dengan siluet H-Line. Ulos Radigub termasuk salah satu jenis ulos Batak Toba yang punya derajat tertinggi, sedangkan Origami adalah seni lipat dari Jepang yang sudah ada sejak pertengahan 1900-an.

IFW 2017: Tenoen Etnik 6 Desainer Bersama BEKRAF | Breaktime
Koleksi Jenahara Black Label

Pada konferensi pers hari Rabu, 1 Januari 2017, Jeny mengungkapkan, “Saya menggabungkan dua budaya yang bertolak belakang ini menjadi satu dan menciptakan jenis etnik baru yang tetap khas Indonesia.” Koleksinya pun memiliki efek 3D yang hidup dari detail hiasannya, yang merupakan karya dari kemahiran tangan Jeny. Untuk IFW 2017 ini, warna hitam, merah dan putih gading menjadi pilihannya.

Sedangkan Torang Sitorus menampilkan koleksi dengan tema “The Passamot”, dengan menonjolkan budaya Batak yang sederhana namun sakral, diperkaya warna dalam tekstilnya. Inspirasi untuk Ulos Passamot ini merupakan perkawinan adat Batak yang bahagia dan penuh haru.

Di mana, sebagai ungkapan terima kasih, orangtua pengantin perempuan memberikan Ulos Passamot kepada orangtua pengantin laki-laki, sebagai tanda kerelaan anaknya menjalani hidup berdampingan dengan putri kesayangan mereka. “The Passamot” sendiri memiliki motif yang artistik dan berbagai warna lembut seperti beige, burgundy, dark grey serta maroon tertuang dalam bahan katun, dengan sentuhan urban lifestyle.

Lalu, tidak kalah menariknya koleksi dari Nieta Tjahyawati dan Anne Rufaidah yang mengusung tema etnik dalam tampilan 16 pakaiannya. Mereka meleburkan kecantikan bersama dengan kekayaan alam yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Nantinya Tenoen Etnik ini akan dipasangkan dengan tenun dari Tana Toraja, sebab kedua kain ini memiliki banyak kecocokan terutama dari segi warna.

Nieta Handayani sendiri mengusung konsep tema Nagaya Donggala untuk Indonesia Fashion Week 2017. Nagaya sendiri berasal dari bahasa Donggala yang berarti “cantik”. Nieta memakai tenun dengan motif bunga-bunga, di mana dirinya juga ingin menjadikan koleksi ini sebagai promosi untuk kain khas Sulawesi Tengah, yang mana saat ini masih sedikit sekali masyarakat yang mengenalnya.

So, dari fashion show kali ini, enam desainer yang menampilkan koleksi karyanya tersebut berharap bisa semakin mendekatkan tenun Indonesia dengan masyarakat tanah air, serta mengenalkan tenun sampai ke mancanegara.



artikel kompilasi
related img
icon maps
BALI
GUIDE
related img
icon maps
BALI
GUIDE
related img
icon maps
BALI
GUIDE