Klimaks Fashion Event Yakni Gemeruh Tepuk Tangan | Breaktime

KONSULTASI FASHION

ISFA

Creative & Academic Development Director

Fashion Show: Gemuruh Tepuk Tangan Menjadi Klimaksnya?
by ISFA
27.08.2015

Menyaksikan sebuah pergelaran busana atau fashion show menjadi sebuah ajang yang paling ditunggu. Mata kita akan dimanjakan menikmati segala yang serba indah. Tampilan anggun para model, koleksi busana yang menawan, gemerlap tata lampu dan panggung yang artistik, belum lagi alunan musik yang menghayutkan, semua menghipnotis kita untuk berdecak kagum. Dan tentunya diakhiri standing aplaus yang membahana. Namun apakah gemuruh tepuk tangan menjadi klimaksnya?

Ternyata akhirnya tidak sampai di situ. Para designer harus mengerjakan rentetan strategi agar koleksinya cepat laku terjual dan menghasilkan uang. Inilah klimaks apresiasi yang sesungguhnya dalam bisnis industri fashion

Menghadapi realitas industri ini, pada perayaan 2nd anniversary dan open house, yang akan jatuh pada tanggal 11 – 12 September 2015, Imelda Sparks Fashion Academy (ISFA) mempersiapkan siswanya untuk menggelar peragaan busana bukan hanya sekedar show dengan tujuan akhir harapan gemuruh tepuk tangan. Tema “Paradox Line” dipilih untuk mewakili koleksi Ready to Wear kali ini yang terinspirasi dari wanita metropolitan yang mandiri dan simple, namun ingin tampil ekslusif dan modis. Pemakaian warna-warna monokrom hitam dan putih, semakin menguatkan kesan tersebut.

Baca juga: RIAS MATA MEMUKAU UNTUK MALAM HARI

Klimaks Fashion Event Yakni Gemeruh Tepuk Tangan
Simple yet stylish dengan warna monokrom

Sejak proses awal, siswa diberi tantangan untuk membuat koleksi busana dengan biaya bahan tidak lebih dari Rp 50.000 per meter, tapi juga dituntut memiliki nilai jual yang lebih. Kreativitas dan konsep yang matang tentu menjadi kuncinya! Mereka juga harus jeli menetapkan sasaran pasar dan harga jualnya. Konsep koleksi  mix and match (padu-padan) kali ini menjadi pilihan jitu, karena fleksibelitas untuk memadukan dengan pakaian lainnya akan merangsang pembelian menjadi lebih tinggi. Strategi-strategi inilah yang harus dipikirkan secara matang dalam keseluruhan rangkaian peragaan busana yang disesuaikan dengan tema koleksi busana yang akan dilempar ke pasar. 
 
Hal yang juga penting adalah ISFA sebagai lembaga pendidikan mode semakin membuka wawasan siswa bahwa dunia fashion bukan dunia kreatif semata, tapi banyaknya unsur peluang karir dan profesi yang terbuka lebar. Tidak hanya menjadi seorang fashion designer, peluang menjadi ahli pola, fashion stylist atau profesi fashion PR misalnya, juga terbuka lebar. Sarana bimbingan karier, pelatihan dan mentoring dari para staf ahli akademi sangat menunjang arah profesi karir dan bisnis yang akan mereka ambil sesuai bakat dan minat siswa.

Sangat disadari juga bahwa kultur bisnis industri fashion tanah air sangat berbeda dengan negara Barat. Cara pendekatan, budaya, karakter bahkan iklim yang sangat berbeda harus dicermati sebagai bagian dari strategi. Di ISFA, program dirancang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan industri fashion nasional, bukan sekedar aplikasi ilmu Barat, sehingga siswa terlatih melalui penerapan realistis terhadap situasi kondisi bisnis fashion di Indonesia

Semua persiapan dan pembelajaran diatas menjadi bekal penting bagi siswa untuk terjun di industri yang sangat menjanjikan ini, dan akhirnya juga mereka tidak berhenti pada buaian klimaks semu gemuruh tepuk tangan di atas pentas.

Share This Article