Benarkah Pendidikan Mode Hanya Jual Mimpi Palsu? | Breaktime

KONSULTASI FASHION

ISFA

Creative & Academic Development Director

Benarkah Pendidikan Mode Hanya Menjual Mimpi Palsu?
by ISFA
26.10.2015

Toby Meadows, pengarang buku paling laris ‘How To Set Up and Run A Fashion Label” menuliskan bahwa menjalankan  sebuah label bisnis yang sukses hanya memerlukan 10% kemampuan kreatif, sedangkan 90%-nya merupakan ketajaman dalam berbisnis (bisnis acumen).

Tidak hanya designer Indonesia, para designer terkenal mancanegara pun, ternyata harus melakukannya sendiri pada saat awal membangun labelnya. Dan, ini menjadi  tantangan besar karena pada satu sisi para designer sudah memiliki kemampuan kreatif yang sangat kuat, namun hanya memiliki sedikit kemampuan berbisnis.

Menguntip sebuah survei yang dilakukan  oleh Business Off Fashion (BOF), terdapat sebuah judul yang sangat menggelitik dunia pendidikan mode, “IS FASHION EDUCATION SELLING a FALSE DREAM?”. Survei ini mengungkapkan ketidakpuasan dari 4000 orang lebih siswa dan alumni yang berpartisipasi.

Apakah pendidikan mode memang menjual mimpi palsu? Padahal, faktanya sektor pendidikan mode tumbuh di mana-mana. Dampak stimultan perkembangan industri mode yang terus meraksasa didukung pesatnya sosial media dan teknologi, pada akhirnya ini membuka banyak peluang karir dan profesi di industri fashion, membuat pendidikan mode menjamur.

Benarkah Pendidikan Mode Hanya Jual Mimpi Palsu? | Breaktime
Kegiatan edukatif di ISFA

Namun, ada hal yang paling melegakan berdasarkan survey, yaitu para siswa dan alumni sangat puas dengan para tutor atau pengajar. Salah satu siswa dari Central S. Martin mengatakan bahwa para tutor sangat kompeten dalam mengenali potensi siswa dan mendorong semangat siswa untuk berkreasi yang terbaik.

Tetapi, sangat miris di sisi lain yang juga disebutkan survei, bahwa terdapat perbedaan antara ekspektasi siswa saat mereka belajar dengan realita sesungguhnya setelah mereka lulus. Banyak sekolah mode yang sangat kurang menyiapkan kebutuhan pengembangan karir dan profesi bagi para siswanya.

Hampir 50% lulusan ternyata banting setir dan memiliki karir yang menyimpang dari jalur pendidikan fashion. “Malang sekali tidak banyak bantuan ataupun bimbingan bagi para siswa ketika lulus untuk memulai karirnya, mereka melakukannya sendirian,” mengutip salah satu siswa dari Australia’s Royal Melbourne Institute of Technology.

Mereka merasa tidak dibekali dengan cara-cara praktis terkait keterampilan berbisnis dan praktek-praktek yang diperlukan, yang dapat membantu siswa membangun bisnis dan karirnya dalam industri fashion.

Menyikapi gap tersebut tentunya para pendidik mode tidak berdiam diri, bahkan terus mengembangkan program-program fashion bisnis dan entrepreneurship, termasuk Imelda Sparks Fashion Academy (ISFA). Akademi yang didirikan tahun 2013 ini menjadi pendidikan mode yang bukan hanya berpusat pada program desain kreatif saja, namun juga memadukan program fashion edupreneur untuk menyiapkan siswanya menapaki karir profesional di industri fashion.

Benarkah Pendidikan Mode Hanya Jual Mimpi Palsu? | Breaktime
Aktivitas desainer di ISFA

Akademi yang menawarkan program-program kursus praktis ini secara berkala memberikan sesi bimbingan karir kepada para siswanya. Dari awal siswa dibimbing untuk memilih spesialisasi profesi karir sesuai bakat dan minatnya berdasarkan segmen pasar yang akan dituju melalui program READY TO WEAR dan MADE TO MEASURE.

Pembekalan praktis juga dilakukan secara aktif lewat  workshop dan seminar yang sering diadakan ISFA, terkait membangun label bisnis dan marketing. Para siswa dan designer harus menyiapkan diri untuk menghadapi tuntutan kemampuan dan ketajaman dalam berbisnis.

Memahami industri fashion dan memastikan di mana para fashionprenuer akan berada di dalamnya merupakan fundamental penting agar label fashion-nya sukses dan terus bertahan.

Share This Article

Tagging: