Sekelumit Sejarah Penciptaan Solar Cell yang Belum Anda Tahu | Breaktime
Sekelumit Sejarah Penciptaan Solar Cell yang Belum Anda Tahu
03.09.2015

Pernahkah B’timers menemui sebuah kotak berwarna hitam garis-garis yang ditempatkan di bagian atas rumah atau bangunan lain? Benda tersebut adalah solar cell yang berfungsi sebagai penampung energi matahari. Energi matahari yang tertampung tersebut nantinya dapat digunakan sebagai sumber tenaga listrik.

Tidak hanya di kota-kota besar saja, di daerah-daerah terpencil juga sudah banyak yang mengaplikasikan teknologi sel photovoltaic ini. Nama photovoltaic ini sendiri diambil dari bahasa Yunani yaitu phos yang berarti cahaya dan volta yang berarti listrik. Bahkan, penggunaan istilah photo-volta ini sudah digunakan sejak tahun 1800-an di Inggris.

Pada tahun 1839, seorang fisikawan dari Prancis bernama Alexandre-Edmond Becquerel yang pertama memperkenalkan ke publik tentang efek menakjubkan dari photo-volta. Baru tahun 1883, sel surya pertama diciptakan oleh Charles Fritts, seorang penemu dari Amerika Serikat, menggunakan lempengan yang dilapisi selenium semikonduktor dengan lapisan tipis terluar dari emas untuk membentuk persimpangannya.

Dari tahun ke tahun, lempeng sel surya terus dikembangkan oleh banyak ilmuwan dan inventor luar negeri. Bahkan di tahun 1905, Albert Einstein juga ikut turun dalam pengembangan solar cell melalui teori photoelectric effect.

Dalam teorinya tersebut, Einstein mengungkapkan bahwa cahaya dibagi menjadi beberapa bagian atau disebut juga dengan nama quanta of energy atau dinamakan photon. Dikarenakan teorinya ini, Einstein mendapatkan Nobel Prize setelah 18 tahun menciptakan teori tersebut.

Baca juga: GADGET SUPER MEWAH BERHARGA FANTASTIS, TERTARIK MEMILIKINYA?

Contoh penggunaan teknologi solar cell di pemukiman nelayan Pantai Kondang Merak, Malang
Contoh penggunaan teknologi solar cell di pemukiman nelayan Pantai Kondang Merak, Malang

Berpatokan pada teori yang dikemukan Einstein tersebut, banyak ilmuwan dari berbagai negara yang kembali mencoba mengembangkannya. Pada tahun 1954, pihak Bell Laboratories berhasil menemukan lempeng yang sangat tepat untuk digunakan sebagai bahan dasar solar cell.

Penemuan yang dilakukan oleh Daryl Chapin, Calvin Souther Fuller dan Gerald Pearson secara tidak sengaja menemukan bahwa doped silicon yang digabungkan dengan pengotor atau unsur-unsur di dalam logam utama yang dihasilkan dari proses ekstraksi ternyata sensitif terhadap cahaya. Hasil penemuan ketiga ilmuwan inilah yang kemudian menjadi tonggak penggunaan dan pengembangan teknologi sel surya lebih canggih lagi.

Sekarang ini, banyak negara di dunia yang sudah mengaplikasikan teknologi satu ini untuk sumber daya listrik. Di Indonesia sendiri, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang menyimpan energi matahari ke dalam sebuah baterai juga sudah mulai berkembang. Sementara itu, sejumlah negara maju sudah menggunaan teknologi solar cell untuk merambah ke dunia otomotif dengan diciptakannya mobil-mobil bertenaga surya.

Sayangnya, instalasi sollar cell sebagai sumber energi listrik cadangan di rumah, tak bisa dilakukan dengan mudah karena biayanya yang besar. Namun, bukan berarti B’timers tak bisa memilikinya  karena sekarang ini sudah banyak tutorial di internet untuk membuat solar cell sendiri dengan harga yang lebih terjangkau. So, menggunakan sumber energi matahari untuk menghemat listrik? Kenapa tidak!

Share This Article