Rompi Kanker Dapat Dukungan Kemenristek Dikti | Breaktime
Rompi Kanker Warsito Dapat Dukungan Kemenristek Dikti
27.01.2016
“I wish cancer would get cancer and die.”

Divonis menderita kanker barangkali merupakan pengalaman terburuk sepanjang sejarah. Secara otomatis B’timers akan bertanya sudah stadium berapa dan tinggal berapa lama lagi waktu yang tersisa untuk menjalani hidup dengan bahagia. Tetapi tidak lagi dengan kehadiran rompi kanker yang canggih ini.

Yap, penderita kanker memang kerap kali merasa putus harapan untuk mendapatkan kesembuhan. Namun, siapa sangka bahwa salah seorang ilmuwan Indonesia justru tampil menggulingkan keputusasaan ini dengan rompi kanker buatannya? Ia adalah Warsito Taruno, seorang doktor lulusan Shizouka University.

Pria yang lahir pada tahun 1967 ini mengembangkan Electrical Capacitane Volume Tomography (ECVT) dan Electrical Capacitane Cancer Theraphy (ECCT). Kedua teknologi ini  berperan penting membantu memindai dan menyembuhkan kanker. Doktor yang juga meraih BJ Habibie Technology Awards dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi  (BPPT) ini sejatinya sudah mengembangkan terapi kanker sejak awal tahun 2000.

Rompi Kanker Dapat Dukungan Kemenristek Dikti | Breaktime
Helm dan rompi kanker temuan Doktor Warsito Taruno

Wujud temuan berupa rompi kanker dan helm kanker tersebut memang sangat bermanfaat bagi publik. Dengan menggunakan kedua alat pembasmi kanker tersebut, penyakit mematikan yang banyak menyerang manusia itu bisa ditekan. Dalam berita di Popular Science ia menunjukkan tentang cyber physical system yang terhubung dengan internet dan mampu melakukan pemindaian tubuh serta mendeteksi penyakit secara cepat.

Teknologi rompi kanker bisa dibilang adalah revolusi teknologi keempat di dunia sejak masa revolusi industri. Warsito pun mengatakan bahwa Indonesia patut berbangga karena mulai mengembangkan inovasi pengobatan kanker melalui sains dan teknologi. Selain itu, Warsito juga mengatakan bahwa Indonesia berada pada forefront perkembangan teknologi dunia.

Teknologi tersebut mampu menangkap kanker payudara dalam satu hingga dua detik. Hanya saja, rompi kanker buatan Warsito Taruno yang sudah diakui oleh banyak ilmuwan luar negeri ini justru mendapatkan sambutan yang kurang baik dari sejumlah tim medis Indonesia. Sebab, sejumlah pasien yang menggunakan rompi kanker tersebut ada yang kondisinya makin memburuk.

Puncak dari ECTV dan ECCT adalah surat dari Kementerian Kesehatan yang meminta Pemerintah Kota Tangerang untuk menertibkan klinik Warsito. Surat tersebut ditandatangani Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan dan berisi pesan untuk menghentikan semua kegiatan risetnya.

Meski begitu, Menristekdikti, Mohamad Nasir mengatakan bahwa riset Warsito ini tidak boleh dimatikan, tetapi harus didampingi. Sebab, rompi kanker merupakan salah satu karya anak bangsa.

Riset efektifitas rompi kanker Warsito perlu diungkap secara lebih terbuka dan dikirimkan hasilnya ke jurnal publikasi ilmiah. Meminta keterlibatan sejumlah pakar medis yang tak kalah mumpuni untuk menilai atau terlibat dalam risetnya juga sangat dianjurkan agar inovasi ini mengalami banyak perbaikan dan memberi manfaat luas pada para penderita kanker. (vsc)

Share This Article