Mengapa Uang Tak Dicetak Sebanyaknya & Dibagikan | Breaktime
Mengapa Uang Tak Dicetak Sebanyaknya & Dibagikan?
31.08.2017

Sejak puncak krisis ekonomi pada tahun 1998 hingga saat ini, keadaan perekonomian di Indonesia belum benar-benar membaik. Meski kondisi saat ini sudah tidak seburuk beberapa dekade yang lalu, Indonesia masih belum mengalami kemajuan pesat apalagi beranjak menjadi negara maju. B’timers tentu pernah berpikir bahwa salah satu solusi tepat bagi kemiskinan yang merajalela di Nusantara ialah dengan mencetak uang sebanyak-banyaknya. Lagipula Pemerintah memiliki wewenang penuh untuk melakukan hal itu bukan?

Rupanya, mencetak uang saja tidak akan menjadi solusi paripurna untuk memperbaiki kondisi perekonomian Indonesia. Dalam sistem ekonomi tradisional, uang merupakan salah satu bentuk alat tukar yang disepakati secara luas sebagai alat pembayaran dan jual-beli. Lalu apa jadinya bila Pemerintah benar-benar mencetak uang sebanyak mungkin untuk dibagikan kepada rakyat? Benarkah mencetak uang akan mengurangi kemiskinan bahkan memajukan kesejahteraan bangsa Indonesia?

Dilansir dari kanal Youtube “Kok Bisa?”, alih-alih memperkaya suatu negara, mencetak uang dalam jumlah besar rupanya malah membuat negara tersebut menjadi semakin miskin. Ilmu ekonomi dasar telah mengajarkan bahwa jumlah uang yang beredar akan berpengaruh signifikan terhadap harga barang. Artinya, banyaknya jumlah uang yang beredar haruslah seimbang dengan jumlah barang yang dibutuhkan. Semakin banyak uang beredar dalam suatu negara, semakin menurun pula nilai uang yang ada alias terjadilah inflasi yang malah akan memperburuk kondisi keuangan di negara tersebut. Nilai suatu uang itu sendiri ditentukan oleh rasio antara uang yang dicetak dengan jumlah uang yang beredar.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Inspirasi Miss V dalam Berbagai Benda Unik

Bayangkan jika Presiden Jokowi saat ini memerintahkan Rupiah untuk dicetak sebanyak mungkin untuk dibagikan kepada rakyat. Meski sekilas nampak menguntungkan, banyaknya uang yang dipegang setiap individu akan membuat kemampuan membeli barang menjadi semakin tinggi. Jumlah barang yang tersedia di pasaran pun akan berkurang drastis sehingga harga tiap barang akan melonjak. Tak hanya itu, mencetak uang banyak-banyak juga akan menyebabkan nilai uang menjadi tidak berharga karena jumlahnya yang terlalu banyak.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Berani Baca, Kisah Mengerikan Terekam Snapchat!

Upaya mencetak uang sebanyak mungkin rupanya pernah dilakukan di beberapa negara, termasuk Indonesia. Tentu saja, bukannya makmur dan kaya-raya, perekonomian negara-negara tersebut pun kian terpuruk akibat terjadi inflasi parah. Pada masa Perang Dunia II misalnya, banyak negara-negara Eropa yang mengalami inflasi akibat nekat melakukan upaya pencetakan uang secara besar-besaran. Hungaria, misalnya, tercatat sebagai negara yang pernah mengalami inflasi terburuk sepanjang sejarah. Demikian banyaknya uang yang dicetak Pemerintah, Hungaria pernah memiliki uang kertas dengan nominal 1 miliar triliun. Selain itu, Jerman juga konon mengalami inflasi selepas Perang Dunia II setelah mencetak banyak uang. Sebenarnya Pemerintah hanya bermaksud mencetak banyak uang untuk membayar kerugian perang. Sayangnya, jumlah uang yang beredar menjadi terlalu banyak sehingga terjadilah inflasi. Saking banyaknya uang yang dimiliki rakyat, uang menjadi tidak berharga hingga dijadikan mainan, hiasan dinding, bahkan bahan bakar api tungku.  

Mengapa Uang Tak Dicetak Sebanyaknya & Dibagikan | Breaktime
Mencetak uang sebanyak mungkin ternyata bukan solusi untuk mencapai kesejahteraan

Di Indonesia sendiri, inflasi akibat upaya serupa terjadi pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Negara Indonesia yang baru merdeka saat itu belum bisa maksimal memungut pajak dari rakyat. Pemerintah pun berinisiatif untuk mencetak uang dalam jumlah besar. Tentu saja Indonesia segera mengalami inflasi hingga harga barang-barang melambung naik bahkan terjadilah hiper-inflasi. Kasus inflasi baru-baru ini juga terjadi di Zimbabwe. Pada tahun 2008, Pemerintah Zimbabwe membuat kebijakan mencetak uang sebanyak mungkin untuk menarik minat masyarakat agar menjadi pegawai negeri. Inflasi yang ditimbulkan mencapai level yang hampir tak terbayangkan, yakni 2,2 juta persen alias kenaikan hingga 2.200.000 %. Bayangkan saja, B’timers, untuk membeli sembako saja, warga Zimbabwe harus membawa uang sebanyak seember penuh!

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Google Doodle: Persembahan Untuk Legenda Film

Ilustrasi inflasi yang paling ekstrem ialah ketika semua orang memiliki uang dalam jumlah yang luar biasa banyak, mungkin tergolong kaya raya untuk ukuran sekarang. Masalahnya, begitu merasa memiliki jaminan banyak uang untuk hari ini dan seterusnya, siapakah yang masih mau capek-capek bekerja? Bahkan petani sekalipun akan menolak bercocok tanam karena merasa segala kebutuhannya sudah terpenuhi dengan banyaknya uang yang dimiliki. Selanjutnya, rakyat Indonesia akan kekurangan bahan pangan secara perlahan. Hal yang sama juga akan terjadi pada sector kehidupan yang lainnya. Harga barang di pasaran pun akan kompak mengalami peningkatan.

Bagaimana, B’timers? Masih ingin menuntut Pemerintah agar mencetak uang dalam jumlah banyak? (dee)



artikel kompilasi
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
BORNEO
TRAVEL GUIDE